oleh

HIPPI DIY Anggap Tak Perlu Surat Kesehatan

YOGYAKARTA – Pelaku usaha pariwisata  meminta pemerintah segera membuka selebar-lebarnya kunjungan wisata ke DIY. Sejak Februari 2020, pariwisata di DIY lumpuh total.

Sekretaris Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DIY, Ariyanto mengatakan tidak perlu lagi surat kesehatan bagi rombongan pariwisata yang berkunjung ke  Yogyakarta.

“Cukup mematuhi protokol kesehatan,” saran Ariyanto, hari ini (17/8/2020).

BACA JUGA : Pilih Belajar Offline atau Tatap Muka? Ini Jawaban Siswa

Protokol kesehatan cukup diserahkan kepada pelaku wisata perorangan, biro travel maupun penyedia wisata.

Contohnya di Gunungkidul.  Bila mobil pribadi masuk pantai obyek wisata, tidak diberlakukan pemeriksaan. Namun,  petugas tidak  memberikan rekomendasi rombongan bus datang ke wisata pantai.

Padahal, penyedia jasa di sektor pariwisata sebenarnya sudah memiliki protokol kesehatan. Tidak hanya simulasi. Namun, telah direalisasikan.

BACA JUGA : Deklarasi NoTo Berlangsung Meriah, Ketua PKS Bantul Tak Hadir

“HIPPI berkomitmen selalu mendukung kebijakan pemerintah dengan mengikuti protokol kesehatan. Tapi, perlu ada regulasi agar rombongan wisata bisa mudah mengunjungi tempat wisata di DIY,” katanya.

Ariyanto tidak sepakat bila rombongan pariwisata  dianggap sebagai penyebar virus corona.

“Jangan mengkambinghitamkan rombongan pariwisata sebagai sumber penyebaran covid -19,” ujarnya.

BACA JUGA : Hamdan Maju jadi Cabup Bantul, Sebut Baru Calon dari PDIP yang Fiks

HIPPI DIY beberapa waktu lalu melaunching kebangkitan pariwisata sehat. Pariwisata sehat adalah membangkitkan wisata romobongan yang dikeloka biro perjalanan wisata.

Sistem ini diharapkan  program wisata lebih terencana, tertata, dan terpantau. Biro wisata akan  mudah menerapkan protokol kesehatan.

Misalnya penetapan jumlah penumpang maksimal 70 persen dari kapasitas penumpang bus. Suhu badan  penumpang bus juga dicek.

BACA JUGA : Lomba Desain Logo BOB, Disediakan Hadiah Rp 37 Juta

Rombongan secara otomatis saling mengenal secara sosial. Sementara wisata  pribadi sulit dikontrol.

“Rombongan bus pariwisata jangan dicurigai sebagai pembawa covid-19. Itu sangat menyudutkan,” tandasnya. (#)

penulis: yuliantoro | editor: sauki adham

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA