oleh

UGM Kampanye Pakai Masker dan Cuci Tangan

SLEMAN –  UGM  berencana melakukan penyesuaian pelaksanaan perkuliahan pada adaptasi kebiasaan baru.  Jika terpaksa melakukan pembelajaran tatap muka, tetap sesuai dengan protokol kesehatan. Waktu tatap muka tidak lebih dari 30 menit.

“Belajar dari penularan SARS-CoV2, menjaga jarak menjadi faktor penting. Karena itu kami akan melakukan pengaturan ruang kuliah dengan mengurangi populasi hingga 60 persen,” kata Ketua Satgas COVID-19 UGM, Dr dr Rustamadji MKes  dalam webinar Persiapan Adaptasi Kebiasaan Baru di Lingkungan Kampus, hari ini (8/10/2020).

Sebelumnya, Direktur Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM, dr Riris Andono Ahmad MPH PhD mengatakan persiapan adaptasi baru di lingkungan kampus menjadi isu penting.

BACA JUGA : Mari, Jaga Keluarga dengan Gerakan 3M

Sebab, dunia pendidikan mengharuskan interaksi antara mahasiswa dan dosen. Seperti kata BNPB, kampus dianggap berisiko tinggi menularkan COVID-19

Langkah lain yang dilakukan UGM untuk mencegah penularan COVID-19 adalah kampanye penggunaan makser dan cuci tangan di lingkungan kampus. Juga menerapkan etika batuk dan bersin.

Peneliti Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM, dr Citra Indriani MPH mengatakan dimulainya kembali kegiatan pendidikan secara tatap muka memunculkan risiko klaster baru COVID-19.  Kos juga menjadi area yang rentan menjadi tempat penularan COVID-19.

BACA JUGA: UMBY Menuju Top 100 World Class University

“Karena itu roda menjalankan protokol kesehatan harus dilakukan secara bersama-sama,” katanya.

Langkah lain memutus rantai penularan COVID-19 adalah blok tempat tinggal. Juga ada pengelola asrama yang tertib menerapkan protokol kesehatan bagi para penghuni.

Agar tidak terjadi penularan di asrama, Citra mengimbau pengelola mewajibkan karantina 14 hari bagi penghuni dari luar wilayah yang baru saja kembali.

Ketua Health Promoting University (HPU) UGM, Prof  Yayi Suryo Prabandari mengajak masyarakat  memakai masker, jaga jarak, serta sering mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Juga menghindari kerumunan.

Lalu, memperbarui pencarian sumber kesehatan yang kredibel, olahraga, pola makan sehat dan tidak merokok.  Meminimalkan mengunjungi rumah sakit. Konsultasi ketika sakit, menambah literasi kesehatan, dan membangun solidaritas. (aza/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA