oleh

Tempat Singgah bagi Pasien Kanker, Biaya Hanya Rp 7.500/Orang

YOGYAKARTA  – Kini ada tempat singgah di Daerah Istimewa Yogyakarta bagi  pasien yang terkena penyakit kanker.

Namanya Sasana Marsudi Husada (SMH).  Berada di Sendowo G-1B, RT 013 RW 056 Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman.

SMH adalah tempat  kali pertama di DIY bagi pasien setelah berobat ke rumah sakit.

BACA JUGA : Bukit Paralayang Watu Gupit Banjir Wisatawan

Rumah singgah ini sempat direnovasi.  Diresmikan oleh Ketua YKI DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas pada tanggal 3 Juli 2020. Sedangkan peletakan batu pertama telah dilakukan Wakil Gubernur DIY, Paku Alam X pada  4 Juni 2019.

“SMH dikelola Yayasan Kanker Indonesia Cabang  DIY. Rumah singgah untuk mendukung proses penyembuhan pasien,” terang Ketua Pelaksana Proyek SMH, Dyah Suminar SE.

Sasana Marsudi Husada  dibangun di atas lahan seluas 7.278 meter per segi. Tanah ini milik Kraton Yogyakarta. Dibangun dengan anggaran sebesar Rp 2,9 miliar.

BACA JUGA : Eks Hotel Tugu Nasibmu Kini, Bangunan Cagar Budaya yang Mangkrak

Kata Dyah yang juga owner Margaria Grup, dana pembangunan seratus persen berasal dari sumbangan para donator.

Dikumpulkan secara bertahap dari donasi atas nama perseorangan, perusahaan lokal dan perusahaan nasional.

Pada tahun ini, SMH menambah  15 kamar. Sebelumya hanya tujuh kamar. GKR Hemas  berharap keberadaan SMH semakin  memberi manfaat bagi pasien kanker.

BACA JUGA : Iki Lemon Seger, Minuman Sehat tanpa Air dan Gula

PERESMIAN: GKR Hemas berharap SMH bisa bermanfaat bagi pasien kanker. (istimewa)

Dyah mengatakan, periode pengobatan kanker cukup lama. Mulai radioterapi terhadap pasien sampai  kemoterapi.

“Agar membantu proses penyembuhan bagi pasien, dibutuhkan tempat singgah pasien yang nyaman,” kata Dyah.

Tarif bagi pasien anak dan dewasa kelas bersubsidi dikenai biaya Rp 15 ribu per pasin untuk tiga kamar dua pasien. Sedangkan dua kamar empat pasien, tarifnya Rp 7.500 per pasien.

BACA JUGA : Jadi Beban Ekonomi, Belajar Daring Mulai Bikin Pusing Orang Tua

Dua kamar isolasi tarifnya Rp 15 ribu per pasien. Sedangkan tarif non subsidi sebanyak 15 kamar  sebesar RP 50 ribu per pasien.

Pasien masih menerima layanan seperti kajian agama, senam, rekreasi dan gathering.

“Harapan kami,  inshaallah  pasien jadi sembuh setelah mendapat perawatan secara intensif. Karena kanker dapat disembuhkan asalkan diobati dengan benar, dan masih stadium dini,” ujar Dyah. (#) 

penulis: asa | editor: sauki adham

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA