oleh

Caci Maki dan Hinaan jadi Penyemangat Wiwin Sembuh dari Stroke

KARENA dicaci maki. Dicerca. Dihardik. Diejek dan direndahkan, laki-laki yang terkena stroke justru sembuh. Itulah perjalanan hidup Wiwin, pria yang berhasil menyembuhkan diri dari stroke yang membuatnya menderita. Kisah bermula tahun 2005. Waktu itu, Wiwin berumur 30 tahun.  Ia memang hobi menenggak minuman keras. Hari-harinya tak bisa jauh dari berbagi minuman alkohol.

WIWIN: Berserah diri.

Pada suatu hari, Wiwin bertengkar dengan Martini, isterinya. Tak lama setelah pertengkaran, Wiwin terkena stroke. Wiwin yang bekerja sebagai pedagang dan ikut berbagai event itu  tak berdaya. Hingga akhirnya dilarikan di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Ia langsung mendapatkan tindakan medis. Namun, dokter menyatakan ayah dari dua anak itu terkena stroke akibat penyumbatan di pembuluh darah.

“Saya tak percaya. Saya nyaris putus asa,” kata Wiwin yang dulu aktif dalam gerakan pejuang Keistimewaan DIY.

Melihat kondisi Wiwin, isterinya juga ikut-ikutan tak berdaya. Sejak itu, pria berperawakan tinggi ini tak bisa melakukan apa-apa. Menggerakkan tangan saja susah. Apalagi berjalan. Namun, ia tetap semangat ingin sembuh. Berbagai cara dilakukan. Mulai menggunakan kursi roda. Memakai bantuan penyangga kaki. Sampai berobat secara herbal.

Wiwin yang tinggal di kampung Kauman ini menghirup udara pagi di Alun-alun Utara. Jalan-jalan didampingi isteri dan dua anaknya. Ini jadi kebiasaan setiap hari. Namun, cobaan Wiwin belum selesai. Ketika sakit dan berusaha sembuh, ia justru dicemooh orang-orang. “Biasalah. Ada yang sedih. Ada pula yang senang melihat saya sakit. Saya tidak peduli,” katanya mengenang.

Ejekan dan cemohan itu justru menjadi penyemangat. Sikap orang-orang yang mengejeknya menjadi “cambuk” segera sembuh dari stroke. Hingga akhirnya, Wiwin dan isterinya memutuskan pindah ke Semanu, Gunungkidul. Disinilah hidup Wiwin berubah. Ia semakin rajin shalat. Waktunya dihabiskan untuk ibadah. Ia menerapi dirinya sendiri. Mulai mengkonsumsi obat-obat herbal. Latihan menggerakkan tangan, hingga mencoba berjalan.

“Alhamdulillah. Saat Jumatan, saya lupa tanggal dan bulan, Allah SWT memberi kesembuhan,” tuturnya.

Wiwin mengisahkan, ia hanya bisa duduk saat shalat. Nah, saat Jumatan, tiba-tiba ia bisa berdiri. Bisa ruku’. Bisa sujud dan berdiri lagi dengan sempurna. Ia mengaku menangis ketika kesehatannya kembali pulih. Ia bersujud usai shalat Jumat. Isteri dan keluarnya pun kaget melihat Wiwin kembali ke rumah dengan jalan kaki. Tangis pun pecah. Sehari kemudian, Wiwin memutuskan kembali ke Kauman.

“Saya hanya ingin membuktikan kepada orang-orang yang merendahkan ketika saya stroke. Saya bisa sembuh karena pertolongan Allah SWT setelah sembilan bulan tak bisa apa-apa,” katanya. Ia sembuh total satu setengah bulan sebelum terjadi gempa tektonik 27 Mei 2006.

Betul juga. Sembuhnya Wiwin membuat kaget banyak orang. Namun, Wiwin tak tinggi hati. Ia justru semakin rendah hati dengan kesembuhan yang diberikan kepada Allah SWT. Ia rajin berbagi. Ia juga menyemangati siapa saja yang terkena stroke.

“Wiwin ini hebat. Ia bisa menyembuhkan diri sendiri. Orang-orang yang membencinya jadi penyemangat hidup,” kata Agus, sahabatnya.

Kesembuhan Wiwin bersamaan lahirnya anak ketiga. Anak itu diberi nama Muhammad Tegar Akbar Sanjaya.

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA