oleh

Stigma Pengaruhi Pemulihan Pasien COVID-19

BERITA649.com – Pendampingan sosial perlu dilakukan untuk mengikis stigma  terhadap pasien COVID-19. Pendampingan dilakukan muai RT, RW hingga keluarahan atau desa.

Stigma adalah pandangan negatif yang tidak mendasar terhadap kelompok atau seseorang yang dianggap berbeda dan lebih rendah.

“Pendampingan dengan memberi pelatihan dan bimbingan teknis penanganan COVID-19,” kata pegiat Independent Pekerja Profesional Indonesia, Nurul Eka Hidayat MSi dalam talkshow “Penguatan Sistem Sosial Penanganan Penyintas COVID-19” di Media Center Satgas Penanganan COVID-19 Graha BNPB Jakarta (20/10/2020).

Nurul mengatakan sangat penting bagi masyarakat menangani COVID-19. Keterlibatan masyarakat lokal lebih baik dalam meningkatkan kesembuhan pasien COVID-19. Termasuk menekan  penularan virus corona.

BACA JUGA: SD Muhammadiyah Notoprajan Bisnis POM Mini

Tim Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19, Urip Purwono MSc MS PhD mengatakan stigma selalu muncul ketika ada pandemi.  Wabah Ebola, misalnya.

Stigma orang terkonfirmasi COVID-19 dianggap lebih berbahaya meski sudah sembuh. Warga yang sudah dinyatakan tidak lagi ada virus corona  masih saja dijauhi.

Ketua Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia (JRPI), Dr dr Irmansyah SpKJ (K) menandaskan stigma itu keliru. Stigma itu menganggap penyakit yang harus dijauhi. Dianggap sumber masalah, dan sangat negatif.

Kata Irmansyah, kondisi tersebut sangat mempengaruhi pemulihan pasien.

“Sudah sakit , masih dijauhi lingkungan sosial. Ini kondisi yang tidak menguntungkan,” katanya. (ad/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA