oleh

Siswa Belajar Online, Pedagang Semaput

BERITA649.COM – Pandemi virus corona telah berlangsung selama sembilan bulan. Saat itu juga, satu per satu penjual makanan di Jalan Taqwa Suronatan tumbang.

Bahkan, ada beberapa warung makan yang tutup karena tidak ada pembeli. Begitulah kondisi masyarakat yang mengais rejeki di sekitar kampus Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta.

Bisnis sepi. Tidak ada pembeli. Pasalnya, madrasah meniadakan belajar tatap muka. Siswa melakukan belajar online di rumah masing-masing.

Otomatis, para pedagang yang bergantung kepada siswa madrasah, hanya gigit jari. Padahal, siswa sekolah ini mencapai ribuan orang.

Itulah sebabnya, sebelum virus corona menjadi malapetaka ekonomi, kampung Suronatan dan Notoprajan selalu ramai. Dagangan masyarakat laris-manis. Di sepanjang jalan Taqwa dipenuhi pedagang makanan.

BACA JUGA: Kesembuhan Pasien Merosot, Kematian Terus Bertambah

Semua laris. Penduduk yang memproduksi berbagai makanan kecil juga kebagian rejeki. Warung makan dan toko kelontong selalu dipenuhi pembeli.

Tapi, sekarang?  Semuanya menjadi sepi. Tempat menjaja panganan dibiarkan mangkrak. Bahkan, ada etalase yang “diduduki” unggas.

Tempat penjual makanan dan snack yang biasanya memasang tiga meja, sekarang tinggal satu meja. Panganan tak lagi bervariasi. Tidak lagi komplit.

Penyebabnya karena tidak ada pasokan makanan. Pembuat makanan mengurangi produksi karena panganan yang dijual setiap hari selalu bersisa.

Tak hanya pedagang makanan  yang terkena imbas pandemi virus corona. Penduduk yang membuka usaha laundry juga hanya bisa meratapi nasib. Mesin cuci mangkrak.

BACA JUGA: Bersatu Lawan COVID-19 jadi Sistem Perubahan Perilaku

Sejak siswa madrasah Muallimat belajar di rumah, tak ada lagi yang mencuci pakaian. Padahal, dulu sering menolak pelanggan karena penuhnya pakaian yang antri dicuci dan disetrika.

Kini, situasi berubah. Warga yang membuka bisnis laundry berharap bisa didatangi pelanggan. Berharap ramai seperti dulu.

“Tapi, entah kapan, wawallahu alam. Yang penting berdoa agar pandemi ini segera berakhir,” kata Wiwik.

Bahkan, warga yang membuka toko kelontong  juga hanya bisa pasrah. Pengelola meyakini pandemi virus corona akan berakhir setelah Lebaran 2020.

Namun, keyakinan itu meleset. Ratusan siswa madrasah Muallimat Muhammadiyah yang diharapkan bisa menambah omzet pendapatan, ternyata belum juga sekolah sampai hari ini. (nik/asa)

 

 

 

 

 

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA