oleh

Seniman yang Dekat dengan Penderita Gangguan Jiwa

BIASANYA orang  tidak waras dijauhi. Bahkan, ditinggalkan. Diremehkan. Dan, sederet perlakuan tidak mengenakkan kepada warga yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Namun, ada seorang perempuan yang justru melawan kebiasaan.

PRODUKTIF BERKARYA: Luwi Darto bersama sejumlah seniman. (dok. pribadi)

Adalah Luwi Darto, seniman putri dramawan Bambang Darto yang justru memiliki kebiasaan berteman dengan penderita gangguan jiwa.  “Apapun keadaannya, mereka adalah saudara-saudara kita juga. Mengapa harus dipandang sebelah mata?” ujar Luwi.

Luwi keberatan bila ada sebutan “orang gila”. Karena mereka hanya sedang mengalami gangguan kejiwaan karena banyak faktor. Misalnya karena tekanan hidup, beban persoalan atau masalah lain yang akhirnya menganggu jiwa seseorang.

Itulah sebabnya, Luwi memilih memanusiakan warga yang mengalami gangguan jiwa. Tak terhitung lagi berapa banyak penderita gangguan jiwa yang telah dirawat. Sejak ia tinggal di kampung Sewon hingga sekarang pindah di Kasihan, Bantul.

Perkenalan dengan para penderita gangguan jiwa terjadi di mana-mana. Kadang di jalan, dikabari tetangga atau si penderita gangguan jiwa bertamu ke rumahnya. Luwi tidak mengetahui persis penyebab orang yang dikenal mengalami gangguan jiwa.

“Hampir semuanya dalam kondisi memprihatinkan,” katanya sedih.

Lantas, apa yang dilakukan Luwi terhadap para tamu tamunya? Kali pertama yang dilakukan adalah memastikan tamunya sudah makan atau belum. Bila belum, Luwi langsung mengambil nasi dan lauk-pauk. Lalu menemani makan hingga selesai.

Selanjutnya, Luwi langsung membersihkan badan si tamu. Lalu, mengganti dengan pakaian baru. Begitu kebiasaan Luwi memperlakukan penderita gangguan jiwa. Luwi pun mengajak agar masyarakat memperlakukan warga yang mengalami gangguan jiwa dengan rasa kemanusiaan.

“Mari beri perhatian.  Mari  sayangi semampu kita. Jangan disakiti,” ajaknya.

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA