oleh

Pemkab Gunungkidul Dukung Penghapusan Premium

BERITA649.COM – Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul mendukung penuh upaya peningkatan kualitas udara melalui bahan bakar minyak (BBM)  ramah lingkungan. Termasuk misalnya pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan penghapusan BBM jenis premium.

“Kami sangat mendukung. Bahkan  kami sudah melaksanakan program langit biru sejak 2010,” kata Sekretaris Bappeda Gunung Kidul,  Sri Agus Wahyono pada acara seminar online yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Konsumen (21/11/2020).

Pemkab Gunung Kidul juga memiliki beberapa kebijakan untuk mendukung program langit biru. Antara lain, melarang  semua SPBU menjual premium.  SPBU hanya menyediakan pertalite dan pertamax.

Sampai sekarang masih ada dua SPBU yang diperbolehkan menjual premium. Tapi,  hanya melayani pagi dan sore hari. Karena premium masih dibutuhkan nelayan.

BACA JUGA: Muhammadiyah Minta Pilkada di DIY Patuh Protokol Kesehatan

“Mereka masih tergantung premium. Karena jika membeli pertamax, tentu kesulitan dalam biaya operasional,” terang Sri Agus.

Solusinya, perlu dibarengi penurunan harga pertalite setara premium. Paling tidak,harganya  mendekati. Penurunan harga merupakan solusi paling relevan dan paling logis.

“Yang penting, jangan ada kebijakan  tidak konsisten. Sekarang premium tidak boleh, besok boleh. Itu sangat mengganggu kelangsungan SPBU,” kata Sri Agus.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan rencana penghapusan premium merupakan kewenangan Pemerintah.

BACA JUGA: Hindari Penyebaran COVID-19, Pengungsi dan Relawan Harus Swab

Upaya tersebut membutuhkan komitmen dan kesepakatan bersama.

“Teman-teman Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berada di barisan paling depan. Tetapi, yang punya hajat kan tidak hanya KLHK?  Ada juga Kementerian ESDM,” kata Komaidi.

Pemerintah harus konsisten bila ingin menghapus premium.  Harus disusun roadmap secara bertahap agar diterima masyarakat.

“Jika premium tidak ada, maka ngedumel hanya 1-2 bulan. Setelah itu, kondisi berjalan normal karena mau tidak mau, harus menggunakan BBM,” kata Komaidi. (mkj/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA