oleh

Pelaku Pelecehan Seksual Bakal Dikebiri

BERITA649.COM – Upaya hukum kebiri sebaiknya tidak hanya dilakukan secara farmakologi karena melibatkan obat. Namun perlu edukasi dan konseling sebagai upaya mengembalikan pelaku hukum kebiri ke masyarakat.

Para pelaku kembali memiliki hasrat seksual yang dapat dikendalikan setelah menjalani hukum kebiri kimia.

Kebiri adalah upaya menurunkan dorongan seksual  dengan cara menurunkan kadar hormone androgen  testosterone (T) pada pria. Testosteron adalah hormone utama yang diperlukan untuk libido/hasrat seksual dan fungsi seksual.

“Sesuai PP 70 tahun 2020 yang akan diterapkan di Indonesia, kebiri kimia dilakukan selama jangka waktu 2 tahun. Diikuti upaya rehabilitasi jika sudah 2 tahun,” kata Ketua Program Studi Profesi Apoteker, Farmasi UGM, Ika Puspitasari PhD seperti dilansir ugm.ac.id.

BACA JUGA: Siswa Belajar Online, Pedagang Semaput

Rehabilatasi antara lain berupa rehabilitasi psikiatrik, sosial dan medis. Seperti diketahui, pemerintah akhirnya mengeluarkan PP 70/2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.

Peraturan ini untuk memberi efek jera kepada pelaku pelecehan seksual terhadap anak. Kata Ika, beberapa negara telah menjalankan kebiri secara fisik maupun kimia.

Denmark adalah negara pertama yang menerapkan hukuman kebiri fisik (bedah) pada tahun 1929, diikuti kebiri kimia tahun 1973. Sedangkan Korea Selatan adalah negara pertama di Asia yang menerapkan hukuman kebiri kimia pada tahun 2011.

Sejumlah enelitian mengungkapkan kadar hormone androgen testosterone pada pelaku kekerasan seksual lebih tinggi dibandingkan pria normal bukan pelaku kekerasan seksual. Ada pula penelitian yang menyebutkan korelasi tingginya kadar hormon androgen terhadap agresivitas kekerasan seksual.

BACA JUGA: Belajar Tatap Muka di DIY Mulai 1 Februari 2021

Selain memanipulasi penurunan kadar testosterone, penggunaan obat juga dilakukan untuk kebiri secara kimia. Medroksiprogesteron asetat dan cyproteron asetat digunakan di Amerika, Eropa dan Kanada untuk melakukan hukuman kebiri kimia.

“Kedua obat ini adalah hormone antiandrogen yang bekerja pada tahap sintesis testosterone maupun reseptor androgen di dalam sel Leydig di testis,” terangnya.

Namun, dalam PP 70/2020 hanya dijelaskan kebiri kimia yang dimaksud adalah pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain yang dimulai dengan penilaian klinis oleh tenaga medis dan psikiatri.

Obat lain yang juga bisa digunakan untuk menekan produksi testosterone adalah histrelin asetat, goserelin, leuprolid, dan triptorelin.

Juga ada ketokonazol yang bisa menghambat konversi kolesterol menjadi progesterone. Pemerintah Indonesia tinggal memilih jenis obat yang akan digunakan.

“Apapun yang dipilih perlu mempertimbangkan efek samping obat  yang timbul pada pria pelaku kekerasan seksual,” kata Ika mengingatkan.

Efek samping obat diprediksikan dari turunnya hormone estrogen dalam tubuh. Muncul osteoporosis, peningkatan kadar kolesterol, glukosa,  jantung coroner serta gangguan fungsi dari otak sangat terkait dengan rendahnya hormone estrogen. (mkb/asa)

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA