oleh

Mukhijab, Jurnalis Pertama di Yogyakarta Bergelar Doktor

YOGYAKARTA – Tak berlebihan disebut, inilah kali pertama wartawan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang bergelar doktor.

Namanya Mukhijab. Teman-teman di dunia jurnalis akrab menyapa dengan sebutan Pak Ijab. Laki-laki kelahiran 14 September 1966 ini bukan wartawan kemarin sore.

Ia telah puluhan tahun menjadi wartawan sejak jurnalis waktu itu disebut “kuli tinta”. Mukhijab telah makan garam dalam dunia penulisan.

Pria yang hidupnya relijius ini memang telah pensiun dari hiruk-pikuk reportase. Sekitar setahun lalu, ia  pensiun dari reporter di Pikiran Rakyat Bandung, Jawa Barat.

BACA JUGA: UMBY Panen Dosen Bergelar Doktor

Namun, semangat menulisnya tak pernah surut dimakan usia.

“Bagi saya, menulis telah menjadi nafas panjang kehidupan. Saya dibesarkan dari jurnalistik,” kata Mukhijab kepada BERITA649.COM.

Tapi, bagi Mukhijab, menjadi wartawan tidak cukup. Itulah sebabnya hidupnya terus berproses. Hingga akhirnya pada tahun 2015, ia memutuskan kuliah lagi.

Mukhijab mengambil program studi doktor pada jurusan Sosiologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Di sela-sela kesibukannya menjadi seorang reporter,  Mukhijab juga melaksanakan tugas-tugas perkuliahan.

BACA JUGA: Perketat Masuknya Pemudik, Pemkot Yogyakarta Lakukan Penyekatan

“Saya akui cukup berat jadi reporter sambil kuliah,” kenang laki-laki yang hobi badminton.

Apalagi saat bersamaan, Mukhijab menjadi dosen tamu di Universitas Sultan Agung (UNISULA) Semarang.

Juga sempat menjadi dosen tamu di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.  Tapi, Mukhijab melupakan rasa lelahnya menjalani pekerjaan dan kuliahnya.

Ia terus bersemangat ingin menyelesaikan kuliah. Toh, nyatanya ia  pernah diwisuda setelah menuntaskan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga tahun 1991.

Mukhijab juga diwisuda untuk kali kedua setelah menyelesaikan program magister Sosiologi UGM tahun 2011.

BACA JUGA: Pameran Kartun Hak Asasi di Negara Sendiri

Pengalaman menjadi mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga dan Sosiologi UGM membuat Mukhijab menjadi tahan banting.

“Saya bisa mengatur waktu saat kuliah. Tapi sedikit repot ketika menyiapkan tugas akhir program doktor,” katanya.

Pasalnya ia harus melakukan wawancara dengan banyak narasumber. Ia harus mengumpulkan data untuk menyusun skripsi.

Perjuangan pria lulusan MAN Mendolo Wonosobo, Jawa Tengah ini tak sia-sia. Setelah membutuhkan waktu selama hampir enam tahun, Mukhijab berhasil menyelesaikan kuliahnya di program studi doktor jurusan Sosiologi UGM.

BACA JUGA: Coba Lakukan Cara Ini agar Orang Tua Mudah Asuh Anak

Tanggal 21 April lalu, Mukhijab resmi diwisuda sebagai doktor lulusan jurusan Sosiologi UGM.  Tapi, ada rasa berbeda dibandingkan ketika wisuda sarjana IAIN Sunan Kalijaga (1991) atau wisuda Magister Sosiologi UGM (2011).

“Waktu itu, ada rasa tergopoh-gopoh. Sumuk. Semrawut. Tapi, perasaan enjoy. Senang,” ujarnya.

Nah, pada wisuda doktor,  Mukhijab merasakan suasana berbeda. Rasanya hambar.

Pasalnya, acara wisuda dilakukan secara daring karena memenuhi protokol kesehatan pencegahan penularan virus corona.

“Meskipun wisudawan disarankan pakai jas, rasanya jadi biasa-biasa. Tidak seheboh pelepasan dan wisuda luring,” katanya. (aza/asa)


Informasi tambahan yang disampaikan ke redaksi BERITA649.COM menyebutkan sejumlah orang yang pernah aktif dalam jurnalistik juga telah bergelar doktor. Antara lain ada nama Masduki, Sumbo Tinarbuko, Hadi Suyono, Eddy Suandi Hamid dan Suliastudi DN.


 

 

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA