oleh

Muhammadiyah Sesalkan Perilaku Elite soal Protokol Kesehatan

BERITA649.COM – Majelis Ulama Indonesia menyesalkan terjadinya kerumunan massa yang memperbesar risiko penularan COVID-19.

Wasekjen MUI, Nadjamuddin Ramly mengatakan kerumunan itu tak ubahnya seperti hendak menghancurkan kerja keras semua pihak dalam menanggulangi pandemi.

“Kerja keras sepuluh bulan dihancurkan oleh kegiatan kerumunan dalam satu pekan terakhir,” kata Ramly dalam rapat virtual Satgas Penanganan COVID-19 (22/11/2020).

Ramly mengatakan MUI berkomitmen terus mendukung dan meminta satgas mengedepankan aksi penyelamatan jiwa manusia.

Ia menyebutkan tak kurang dari 12 fatwa sudah dikeluarkan MUI terkait situasi pandemi COVID-19. Antara lain, tata cara shalat bagi tenaga kesehatan yang sedang merawat pasien COVID-19.

BACA JUGA: 319 Tempat Tidur Dihuni Pasien Non Critical

Lalu, fatwa mengenai pemulasaraan jenazah COVID-19. Dan, shalat Idul Fitri dan Idul Sdha di rumah masing-masing.

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 PBNU, dr M Makky Zamzami berharap kejadian serupa tidak akan terulang.

Selayaknya satgas dan semua pemangku kepentingan penanganan COVID-19 melakukan langkah kebijakan antisipasi terhadap musim libur akhir tahun 2020.

“Bila perlu disesuaikan  kearifan lokal. Pesan protokol kesehatan lebih baik jika dibuat berbeda antara satu bulan dan bulan yang lain. Bentuk, cara, dan strateginya berbeda, tetapi tujuannya sama,” kata Makky.

BACA JUGA: Pemkab Gunungkidul Dukung Penghapusan Premium

Sekretaris Satgas COVID-19 PP Muhammadiyah, Arif Nur Kholis melaporkan, dari 82 rumah sakit Muhammadiyah yang tersebar di Indonesia telah merawat 17.000 pasien.

Angka penambahan korban virus corona terus bertambah. Sementara grafik perubahan perilaku menuju masyarakat yang disiplin menerapkan protokol kesehatan pada kenyataannya naik-turun.

Ia menyarankan perlu digencarkan kampanye perubahan perilaku melalui berbagai tema. Semakin tinggi tingkat kepatuhan masyarakat, tidak lagi diperlukan pendekatan dengan cara-cara keras.

“Hal yang sangat disesalkan adalah perilaku elite yang ada kalanya justru menurunkan persepsi masyarakat terhadap tingkat kepatuhan menjalankan protokol kesehatan,” katanya.

Saat  masyarakat bekerja keras menerapkan protokol kesehatan, elite masyarakat  justru abai. Bahkan terkesan menabrak. (ad/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA