oleh

Misinya, Jaga Penduduk Selamat dari Erupsi Merapi

BERITA649.COM – Loyalitas terhadap kemanusiaan membuat orang-orang ini menghabiskan malam di Dusun Ngrangkah, Cangkringan. Lokasinya di lereng  selatan Gunung Merapi. Jaraknya sekitar 800 meter di bawah Kinahrejo.

Mereka sudah berbulan-bulan berada di tempat ini. Jauh sebelum ketika Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan aktivitas Gunung Merapi menjadi “Siaga” tanggal 5 November 2020.

Di tempat berhawa dingin ini, mereka memantau perkembangan aktivitas gunung yang berada di perbatasan DIY – Jawa Tengah. Sekitar 20 orang berjaga setiap malam di salah satu basecamp jeep wisata.

Tak hanya relawan. Ada petani, pegiat wisata, mahasiswa, dan penduduk dari berbagai kampung yang menaruh perhatian terhadap krisis Gunung Merapi.

BACA JUGA: Tujuh Fakultas di UMBY Terakreditasi “A”

“Gunung meletus itu bukan hal baru. Sudah lama ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana menjaga keselamatan penduduk saat Merapi meletus,” kata Sumo, warga Cangkringan, Sleman.

Selain berjaga basecamp, juga ada warga yang berkumpul di masjid. Masjid ini berada di selatan rumah Bu Panut, anak sulung almarhum Mbah Marijan.

Para relawan standby di Ngrangkah sekitar pukul 18.00. Bahkan, sejumlah relawan sudah berdatangan sore hari. Lantas, apa yang dilakukan selama berada di basecamp?

Ada yang memantau lewat perangkat HT. Di perangkat HT terdapat frekuensi yang menggambarkan aktivitas Merapi.

Jika terdengar suara meliuk-liuk dari HT, pertanda sedang terjadi guguran atau justru erupsi di puncak Merapi.

Ada pula yang mengawasi langsung Merapi dengan mata telanjang. Ada juga yang menggunakan alat teropong.

“Tapi kalau di puncak sedang berkabut, tidak bisa apa-apa. Karena tidak bisa terlihat. Hanya bisa memantau Merapi dari HT,” jelas Sumo.

BACA JUGA: Belajar Tatap Muka di DIY Mulai 1 Februari 2021

Cuaca tak bersahabat di lereng Merapi kadang menjadi “gangguan” bagi para relawan. Betapa tidak. Bila kondisi badan sedang tidak fit, udara dingin bisa menjadi persoalan.

Apalagi bila tidur di ruang terbuka dengan selimut tak memadai, bisa membuat masuk angina. Badan menjadi tidak sehat.

“Paling-paling terus  meriang,” timpal Firman.

Itulah sebabnya, kesehatan menjadi faktor penting yang harus dijaga para relawan. Asupan makanan dan minuman setiap malam harus bergizi.

Logistik berupa makanan dan minuman dibeli dari patungan para relawan. Juga kadang datang dari sumbangan masyarakat.

Sementara ketika hendak tidur, para penjaga Merapi ini hanya mengenakan jaket dan selimut seadanya. Selama enam jam lebih mereka melawan dingin yang menusuk tulang. (aza/asa)

 

 

 

 

 

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA