oleh

Menengok Monumen Bibis yang Sedang Kesepian

BANTUL – Bibis. Tempat ini menyimpan sejarah sekaligus menjadi saksi  perjuangan tentara Indonesia melawan Belanda.

Adalah Letkol Soeharto, pimpinan pasukan Brigade X Divisi III yang menjadikan Bibis sebagai tempat persembunyian para gerilyawan melawan Belanda pada tahun 1949.

Brigade X Divisi III merupakan pasukan tentara yang melawan Belanda pada Serangan Umum 1 Maret 1949.

Lokasinya berada di bukit di wilayah Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Jaraknya sekitar 9 kilometer dari Kota Yogyakarta ke arah Kecamatan Kasihan, Bantul.

BACA JUGA: Ini Cara Memperpanjang Surat Izin Mengemudi

PINTU MASUK: Monumen Bibis. (ninik/berita649.com)

Monumen Bibis berada tidak jauh dari tempat wisata. Misalnya Goa Selarong di Pajangan.

Lalu, kampung industri kerajinan di Krebet. Juga berdekatan dengan tempat kuliner yang sedang tumbuh dan berkembang di wilayah kecamatan Kasihan dan sekitarnya.

Antara lain Angkringan Bibis yang menjadi pos para goweser. Berdasarkan catatan sejarah, tempat ini terdapat rumah milik Harjowiyadi, kepala dukuh setempat.

Rumah Harjowiyadi menjadi markas para gerilyawan. Di rumah ini pula, Letkol Suharto mengatur strategi melawan tentara Belanda.

Selama lima bulan bermarkas di Bibis, pasukan Brigade X Divisi III mendapatkan bantuan masyarakat berupa bahan makanan.

BACA JUGA: Usia Lebih Tinggi Berkesempatan Diterima di SD Negeri

SAKSI SEJARAH: Pendopo yang digunakan markas. (ninik/berita649.com)

Pemberian bantuan mengikuti perintah Pangsar Jenderal Sudirman yang meminta masyarakat membantu perjuangan tentara.

Kini, lokasi ini dijadikan monumen. Dibangun tahun 1974. Bangunan pendopo yang  terdiri emper, dalem dan gandok tetap dipertahankan.

Monumen Bibis menyimpan benda-benda sejarah yang digunakan Letkol Soeharto saat memimpin pasukan Brigade X Divisi III.

Ada meja, kursi, mesin ketik manual, piring, gelas, sendok, sepeda ontel, dan foto-foto usang.

Sayangnya, tempat bersejarah ini sepertinya kurang “sentuhan”. Dapat dilihat sejumlah bangunan  yang mulai rusak.

Kondisi monumen  kurang terawat. Papan petunjuk menuju monumen juga masih terbatas.

Padahal, Bibis bisa menjadi sumber literasi sejarah, sekaligus tempat wisata edukasi. (aza/asa)  

 

 

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA