oleh

Masker Bekas Bikin Burung dan Penyu Mati

SLEMAN – Data yang dihimpun BBC secara global menyebut penduduk dunia memakai 129 miliar masker setiap bulan selama pandemi COVID-19. Sementara sarung tangan plastik sekali pakai sebanyak 65 miliar lembar.

Kini, sampah masker dan sarung tangan menjadi limbah baru setelah polusi plastik.

Dosen UGM, Chandra Wahyu Purnomo ST ME MEng DEng menyebutkan limbah medis yang dibuang tidak sesuai aturan sering menimbulkan masalah.

BACA JUGA: Status Siaga Sejak 5 November 2020

Limbah medis yang berakhir di daratan maupun perairan berisiko membahayakan fauna maupun ekosistem.

“Sepanjang tahun 2020, masker bekas telah menjerat burung dan penyu yang berujung kematian,” kata Chandra seperti dilansir ugm.ac.id.

Solusinya, UGM berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung  dan Universitas Sebelas Maret. Tiga perguruan tinggi negeri ini membuat sistem pengelolaan limbah medis masker sekali pakai dan sarung tangan plastik.

Sistem pengelolaan sampah tersebut berlabel Dumask (Dropbox-Used Mask). Sistem bertujuan menyediakan jalur pembuangan masker dan sarung tangan bekas dari masyarakat umum yang aman dan ramah lingkungan.

Proyek Dumask didanai  Program Penelitian Kolaborasi Indonesia (PPKI). Dilaksanakan Februari-Oktober 2021.

BACA JUGA: Butuh Sabar Menyikapi Penegakan Hukum

Proyek dimulai dengan pengumpulan limbah masker dan sarung tangan menggunakan boks, serta pembuatan aplikasi untuk memantau dropbox dan alat pembakar.

Satu boks volume 30 liter mampu menampung sekitar 500 masker per sarung tangan bekas. Boks yang penuh akan  dihancurkan dengan teknologi termal pirolisis dan incinerator.

Teknologi tersebut masih memakai pemanas dari api kompor gas. Bahan membuat Dumask berupa boks karton dan tempat stainles steel.

Pembuatan boks karton menghabiskan biaya Rp 50 ribu. Dropbox bisa diletakkan di beberapa lokasi. Bila boks telah penuh sampah, sistem akan mengirim notifikasi di aplikasi.

Petugas mengambil boks. Lalu, sampah medis dihancurkan dengan pemanasan suhu tinggi.

BACA JUGA: Mukhijab, Jurnalis Pertama di Yogyakarta Bergelar Doktor

“UGM memiliki rumah inovasi daur ulang (RINDU) yang berada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT). RINDU  memiliki peralatan pemusnahan limbah teknologi termal yang memadai,” jelas Chandra.

Nantinya, sistem pemusnahan limbah akan dikembangkan di universitas lain.

Program ini  didukung Universitas Airlangga, Universitas Ahmad Dahlan, Politeknik ATK, Universitas Janabadra, dan Universitas Proklamasi 45.

Kendala yang dihadapi sekarang sulit mencari industri pembuat boks karton yang kustom kapasitas besar.

Selain itu, mengajak masyarakat membuang masker dan sarung tangan bekas ke dropboks yang telah disediakan juga tak gampang. (aza/asa)

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA