oleh

Makan Bersama Bisa jadi Problem

BERITA649.com – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Arif Satria SP MSi mengatakan kampanye melawan virus corona membutuhkan gerakan sosial luar biasa.

“Edukasi kampanye harus benar-benar efektif. Tidak bisa melulu dari pemerintah,” kata Arif Satria.

Pemerintah  tidak bisa sendiri menangani pandemi COVID-19. Butuh kerjasama melibatkan organisasi masyarakat.

Misalnya  Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua organisasi ini memiliki peran penting memberdayakan gerakan level bawah.

BACA JUGA: Waket MPR Apresiasi Sultan Atasi COVID-19

Arif yang juga penyintas COVID-19,  mengingatkan penerapan protokol kesehatan hanya terjadi di perkotaan. Alasannya,  daerah mengalami problem keteladanan tokoh.

Itulah sebabnya, para wakil rakyat, kepala daerah, ahli agama yang memberi contoh baik akan lebih mudah menyerap ke bawah.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito kembali mengingatkan masyarakat yang hendak melakukan perjalanan luar kota melakukan skrining sebelum mengunjungi tempat tertentu.

Langkah tersebut agar tidak menimbulkan penyebaran virus COVID-19 di lokasi tujuan.

BACA JUGA: Ini Strategi Banyuwangi Garap Pariwisata pada Pandemi COVID-19

“Bisa saja mengunjungi tempat dan bertemu masyarakat bisa menularkan ke orang lain. Jangan sampai  membawa penyakit dari tempat lain,” sarannya.

Sementara motivator sekaligus penyintas COVID-19, Tung Desem Waringin mengusulkan protokol kesehatan perlu ditambah dengan satu “M”. Yakni, menghindari makan bersama.

“Menurut saya makan bersama jadi problem. Mudik lalu makan di tempat umum, ini jadi bahaya,” kata Tung Desem Waringin.

Karena itu, Tung menyarankan  masyarakat yang melakukan perjalanan luar kota dalam liburan panjang kali ini perlu tes swab. Memastikan bebas COVID-19, sehingga tidak menularkan kepada orang di sekitarnya.

“Kalau saya, libur saat ini  lebih baik jadi kesempatan berkebun. Bersih-bersih rumah.  Jangan dulu deh,” sarannya. (ad/asa)

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA