oleh

Kisah Dokter Tarpapar COVID-19: Tersiksa, Hampir Menyerah

BERITA649.COM –  Ini adalah kisah seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit di Wonogiri, Jawa Tengah. Namanya dr Sriyanto Sp B. Ia yang harus menjalani karantina selama 12 hari setelah terkonfirmasi positif COVID-19.

Kisah ini bermula pada 18 November 2020 setelah mengikuti swab. Hasilnya, dia dan anaknya positif. Lalu, keduanya dibawa ke ruang isolasi di RS Moewardi, Solo, Jawa Tengah.

“Saya dan anak saya mengalami kondisi demam dan batuk. Sepanjang perjalanan antara Wonogiri ke Solo, tubuh saya terus menggigil,” katanya.

Sementara ayah mertua  yang juga dokter bedah sedang dirawat di ICU RS Karyadi Semarang karena positif COVID-19.  Usia 78 tahun membuat sangat rapuh menghadapi serangan virus.

BACA JUGA: Pandemi Menjadi-Jadi, Protokol Kesehatan jadi Andalan

“Sudah ada  8 orang dari keluarga kami yang positif COVID-19,” imbuhnya.

Sesampai di ruangan isolasi, kondisinya tambah buruk dengan demam yang tinggi. Setiap hari  menggigil kedinginan. Bahkan setiap 6 jam sekali harus mengkonsumsi obat pamol agar tidak menggigil akut.

Di hari keempat masa isolasi, mulai batuk dengan badan terasa sakit. Ketika menerima telepon dari keluarga atau sahabat, batuk semakin parah.

Setiap bergerak dan batuk seperti ketika shalat, dari rukuk ke sujud, atau dari sujud ke berdiri, otomatis akan batuk.

Ia sangat tersiksa. Rasanya sulit bernafas.  Pada hari keenam isolasi, kondisi semakin parah. Ia sudah tak bisa merasakan indera penciuman.

Bahkan tidak bisa mengunyah dengan baik. Nasi jatah makan terasa sangat keras. Ia berusaha mengunyah tapi gagal. Kerongkongan terasa sangat sakit.

Berkali-kali berusaha mengunyah nasi, tapi tak bisa sampai. Akhirnya dimuntahkan kembali nasi yang masih utuh.

Ia sadar kondisi ini mengakibatkan nasi terasa keras sehingga sulit mengunyah sekaligus menelan.

BACA JUGA: UMKM Naik Kelas di Masa Pandemi Lewat Digitalisasi

“Mungkin cairan kelenjar tidak keluar sehingga fungsi saraf menelan terganggu.  Virus ini mengganggu semua fungsi mulut dan tenggorokan,” katanya.

Hari ketujuh masa isolasi merupakan puncak penderitaan. Batuk yang semakin parah, ditambah komorbid penyakit diabetes.  Ia hampir menyerah kalah.

Tetapi, malam itu penuh mukzizat, karena mendapat kiriman plasma dari Jakarta. Beberapa hari sebelumnya ia memesan dua kantong plasma. Plasma dan tosilizumab adalah wasilah terampuh mengobati COVID-19. (bersambung)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA