oleh

Keris dan Tombak Jaman Kerajaan di Indonesia Ada di Tempat Ini

SLEMAN – Sederet benda pusaka karya adiluhung masa lalu tersimpan di kediaman Pramono Pinunggul, seniman kondang yang tinggal di Sayegan, Sleman.  Ketua Lingkar Kajian Keris DIY ini memiliki koleksi keris, tombak dan pusaka lain dari berbagai jaman kerajaan di nusantara.

Ada keris jaman Kerajaan Banten, Padjajaran, Medang, Mataram Hindu, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram Islam Kotagede,  hingga kekinian.

BACA JUGA : Mau Jualan Nasi dan Snack di Pemkot Yogyakarta? Download Saja Aplikasi Nglarisi

Ada pula keris dari kerajaan luar Jawa seperti Bali, Sriwijaya, dan lain-lain. Bahkan ada keris legendaris dari kerajaan Kediri, yaitu Keris dapur Nogo Pandito pamor beras wutah karya Empu Gandring yang digunakan Raja Ken Arok.

“Saya katakan ini keris karya empu gandring karena keris ini ditemukan penambang pasir di Sungai Berantas Kediri. Dari bentuk gaya dan tangguhnya adalah Kediri. Benar atau tidak ya, wallahualam,” katanya kepada BERITA649.COM, (12/8/2020).

BACA JUGA : LOWONGAN KERJA untuk Posisi HRD Officer dan Front Office Admin

Pramono  mengatakan, selama ini banyak pemahaman masyarakat yang salah terhadap keris. Keris dinilai identik mistis dan syirik. Sehingga ada yang ketakutan menggunakan saat acara mantenan sekalipun.

Kata Pramono, dari segi filosofis, keris memiliki banyak arti dan makna. Mulai bilahnya, warangka, ukiran, teknik pembuatan hingga perawatan.

Keris juga memiliki sejarah panjang dari sisi nilai historis. Keris sudah ada sejak zaman pra kerajaan Majapahit.

BACA JUGA : Akhir Pekan Kemarin, Wisata Dieng Dikunjungi 16 Ribu Orang

Itulah sebabnya, Pramono bersama komunitas Lingkar Kajian Keris ingin meluruskan pemahaman tersebut dengan mengedukasi tentang keris melalui pameran dan kajian keris.

Diskusi digelar setiap bulan pada minggu pertama. Diskusi ini tidak hanya melibatkan pecinta keris.

BACA JUGA : Mahasiswa UGM yang Diterima Tanpa Tes Ini Sedih, Mengapa?

Ada pula lintas disiplin ilmu untuk membongkar kekayaan keris. Ia pernah kedatangan tamu dari Malaysia. Rombongan negara tetangga ini tertarik mempelajari seluk beluk keris.

“Pertanyaan  saya, kenapa ketertarikan justru dari luar tinggi? Sedangkan para pewaris asli justru kurang menjamah,” katanya. (#)

penulis: yuliantoro | editor: sauki adham

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA