oleh

Kaum Intelektual Sebut Vaksin COVID-19 Penting

SLEMAN – Survei persepsi masyarakat terhadap Vaksin COVID-19 oleh Center for Digital Society (CfDS) menyebutkan kaum intelektual menganggap vaksin COVID-19 penting.

Namun, survei yang dilakukan Februari sampai pertengahan Maret 2021 ini juga menyebutkan sebanyak 40 persen tidak setuju dengan wajib vaksin COVID-19.

“Mayoritas masyarakat berpendidikan tinggi berpendapat vaksinisasi COVID-19 penting, tetapi tidak setuju vaksinasi wajib bagi setiap warga,” kata peneliti senior CfDS Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Amelinda Pandu Kusumaningtiyas dan Iradat Wirid, 24 Maret lalu.

Sikap kalangan pendidikan tinggi pengaruhnya tinggi terhadap sikap kelompok masyarakat lain. Situasi ini bisa dikaitkan  kesediaan penerima vaksin tahap pertama. Dari 601 responden terdapat 49,9 persen menolak menjadi penerima vaksin COVID-19 pertama.

BACA JUGA: Serunya Nonton Pertarungan Godzila dengan King Kong

“Jadi, pandangan kalangan terpelajar secara langsung berdampak pada persepsi negatif masyarakat tentang vaksinasi,” imbuh Amelinda.

Survei CfDS juga menunjukkan, warga masih update informasi soal vaksin dan pandemi COVID-19. Mereka mengakses informasi tersebut melalui sosial media.

Data Maret 2020 hingga Februari 2021 terdapat lebih dari 18.400 cuitan di Twitter berkaitan isu tolak vaksin atau anti vaksin.

Di balik topik cuitan tersebut, sebanyak 81,5 persen responden menganggap atau tertarik dengan postingan  COVID-19 sebagai bagian dari konspirasi.

BACA JUGA: Rokok dan Kangkung Sumbang Inflasi di DIY

Adapun yang tertarik atau mengakses isu tentang bantahan soal pandemi sebagai konspirasi hanya berkisar 1.000 cuitan.

Platform media yang menjadi arena sosialisasi adalah sosial media bentuk audio dan visual. Para nitizen tidak sebatas menonton video, mereka juga tertarik berkomentar.

Survei mengungkapkan mayoritas masyarakat masih percaya dengan teori konspirasi elit global yang menyatakan vaksin COVID-19 dibuat demi keuntungan korporasi farmasi, atau untuk
memasukan microchip dalam tubuh manusia.

Tetapi, mereka juga tertarik dengan hoax tentang pasien covid bisa sembuh dengan kalung anti COVID-19.

“Informasi sosial media sangat berpengaruh terhadap pembentukan pendapat masyarakat Indonesia tentang virus corona,” kata Amelinda. (mkb/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA