oleh

Kasus Kekerasan di Yogyakarta Meningkat pada Pandemi Virus Corona

BANTUL – Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan sebelum maupun selama pandemi di Yogyakarta tetap tinggi.  Bahkan, konflik rumah tangga cenderung meningkat.

“Ini berdasarkan kasus yang kami tangani,” kata Defirentia One dari Rifka Annisa pada Webinar Nasional Strategi Pemberdayaan Masyarakat di Era Pandemi Covid-19, 14 Juli lalu.

Webinar diselenggarakan Pusat  Studi  Keluarga  dan  Komunitas beserta Go Giver Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.  Defi juga  memaparkan pendampingan perempuan korban kekerasan.

BACA JUGA : Wisata Taman Sari Dibuka 8 Juli, Pengunjung Dilarang Sentuh Bangunan

Agar  tidak semakin banyak wanita menjadi korban kekerasan, Dedi mengatakan Rifka Annisa mengoptimalkan edukasi pengorganisasian masyarakat untuk  dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Dosen sekaligus psikolog dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Dr Moordiningsih MPS ini membicarakan mengenai strategi intervensi komunitas, terutama psikoedukasi masyarakat.

Kata Ning, pangggilannya, psikoedukasi pada masa pandemic virus corona dapat dilakukan dengan memanfaatkan media sosial untuk menampilan konten yang mendidik masyarakat.

“Ketika membuat content psikoedukasi masyarakat, penting menyusun kata dan kalimat yang mampu menggugah kesadaran orang yang membacanya,” katanya.

BACA JUGA : Heha Sky View Banjir Wisatawan Domestik

Alumnus Fakultas Psikologi UMBY, Dicky Senda, menyebutkan  selama pandemi virus corona, masyarakat  yang didampingi di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, NTT  justru mampu bertahan.

“Karena selama ini sudah mempersiapkan diri dengan aktivitas ekonomi berbasis online,” terangnya.

Sementara itu,  Juang Akbar Magenda dari  Indonesia Mengajar bercerita tentang para pengajar muda yang tetap melakukan pendampingan kepada siswa selama pandemi virus corona.

Mereka melakukan  pembelajaran dari rumah ke rumah. Berkolaborasi dengan guru dan orang tua, hingga melakukan pemberdayaan masyarakat agar siswa  tetap mendapatkan hak menuntut ilmu.

BACA JUGA : Pensiunan BRI Bagikan Sembako di Pasar Beringharjo

Koordinator Acara, Nanda Yunika Wulandari MPSi mengatakan tujuan  webinar memberi informasi mengenai permasalahan psikososial yang sedang terjadi di Indonesia. Juga  menularkan inspirasi kepada para mahasiswa agar  berperan memecahkan persoalan di komunitas.

Kuliah umum diisi pemaparan  para praktisi yang bergerak dalam bidang pendidikan, gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, kesehatan mental masyarakat, kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi komunitas. (#)

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA