oleh

Jadi Beban Ekonomi, Belajar Daring Mulai Bikin Pusing Orang Tua

YOGYAKARTA – Mulai banyak orang tua murid yang keberatan terhadap pelaksanaan belajar-mengajar di rumah. Alasannya sederhana saja.

Belajar online membuat pengeluaran orang tua membengkak. Pengeluaran tak terduga ini untuk membeli kuota data internet.

Padahal, kebutuhan data internet setiap hari nntuk belajar daring tidak kurang dari tiga giga. Harganya berkisar Rp 15 ribu.

BACA JUGA : Jaga Jiwa Lebih Penting, Muktamar Muhammadiyah Belum Tentu Digelar Desember 2020

Artinya, orang tua harus menyiapkan anggaran sebesar Rp 450 ribu untuk pembelian data internet. Angkanya bisa saja bertambah.

Tergantung pemakaian data internet dan jumlah anak yang sekolah.

“Semakin lama belajar daring, ini jelas akan jadi beban ekonomi,” kata Emi, orang tua siswa.

BACA JUGA : Duh, Warga DIY Positif Covid-19 Tambah 16 Orang

Sejak daring diberlakukan, ada orang tua yang harus membeli perangkat komputer. Pasalnya, anak mengaku tidak nyaman daring menggunakan ponsel.

“Ya gimana lagi. Tetap harus beli,” kata Dani, warga Sewon, Bantul.

Berbeda lagi yang dialami Agus, orang tua dari dua anaknya yang masih belajar di sekolah dasar.

BACA JUGA : Rumah Yatim Yogyakarta Temukan Wanita Tua Susah Makan dan Minum

Belajar daring membuat kedua anaknya justru enggan belajar.

Hari-harinya justru habis untuk bermain. Agus berharap perlu ada kebijakan baru agar anak-anak bisa rajin belajar pada masa pandemic virus corona.

Pengamat sosial dan pendidikan, Maya Sila,  mengatakan butuh efforts para orang tua untuk mendampingi anak belajar di rumah pada wabah covid-19.

BACA JUGA: Tempat Wisata di Yogyakarta Sudah Bisa Dikunjungi, Ini Syarat yang Wajib Dipenuhi

“Betul memang capai dan mahal. Tapi, tetap harus dilakukan agar kebutuhan anak-anak untuk belajar terpenuhi,” katanya.

Sementara itu, SD Muhammadiyah Notoprajan sempat akan melaksanakan ‘Guru Kunjung’.  Program ini berupa kunjungan guru kepada murid.

BACA JUGA: Suami Sakit, Anaknya Gangguan Jiwa, Menantu Difabel

Pertemuan dilakukan di rumah  atau tempat lain yang memadai. Sementara pesertanya terbatas. Maksimal lima siswa.

Namun, rencana tersebut dipending setelah mendengar ada penolakan orang tua dari sekolah lain.

“Apakah program itu akan dilaksanakan atau tidak, kami sebaiknya menunggu saja arahan dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta,” kata Kepsek SD Muhammadiyah Notoprajan, Lutfi. (#)

penulis: asa | editor: sauki adham

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA