oleh

KETUA PHRI DIY: Hotel dan Restoran dalam Kondisi SOS

HOTEL dan restoran di Daerah Istimewa Yogyakarta telah kedatangan tamu.  Tempat – tempat wisata yang tersebar di Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Bantul dan Gunungkidul  telah didatangi pengunjung.

Lantas, betulkah ledakan wisatawan berbanding lurus dengan upaya menyehatkan stamina hotel dan restoran?

Berikut bincang-bincang Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono  bersama Jurnalis Berita649.Com, Azam Sauki Adham.

Apa kabar mas Dedi?

Alhamdulillah. Sampai hari ini tetap sehat meski sebenarnya saya harus mengatakan sangat lelah.

Tapi, inilah yang namanya perjuangan. Kami harus bersama-sama bangkit dari keterpurukan akibat pandemi virus corona.

Apakah saya boleh mengatakan, dibukanya hotel dan restoran, termasuk tempat wisata  belum mengubah keadaan?

Jadi begini. Saat ini di PHRI DIY ada empat kriteria. Pertama kriteria “kuat”. Kedua, “setengah kuat”. Ketiga, “pingsan”. Sedangkan kriteria keempat adalah “hampir mati”.

Yang masuk kriteria “kuat” sekitar 30 persen dari seluruh hotel dan restoran di DIY. Angkanya  sekitar 300.

Yang kuat ini mulai goyah menjadi “setengah kuat”. Sedangkan “setengah kuat” sudah bergerak “hampir pingsan”.

Hotel dan restoran golongan “pingsan” telah bergerak menjadi “hampir mati”. Yang “hampir mati” sudah setengah mati. Inilah kondisi sebenarnya yang perlu diketahui pemerintah.

Mengapa? Karena beban operasional tinggi. Sementara  permintaan sedikit.  Pendapatan yang diperoleh belum bisa menutup operasional. Ini yang menjadi alasan kuat.

Bisakah diinformasikan tentang kondisi hotel dan restoran sekarang?

Saya berulang kali menyampaikan  bahwa  kekuatan hotel dan restoran hanya sampai bulan Juni. Tetapi sekarang sudah melewati hampir dua bulan.

Saya tidak menyebut namanya. Namun, sebagai informasi saja, ada satu lagi restoran yang sudah tutup. Sempat buka. Tapi tutup lagi.

Mengatasinya, kami butuh intervensi dari pemerintah.  Dengan cara apa ? Stimulus diperpanjang. Pembayaran pajak ditunda. Syukur ada keringanan. Juga termasuk membayar BPJS dan listrik.

Jujur saja, cashflow makin menipis. Kondisi sudah nol. Ini SOS bagi hotel dan restoran.

Bagaimana nasib pekerja?

Data terakhir sekitar hotel se-DIY mempekerjakan 22 ribu orang. Tidak ada yang diPHK. Ada yang  cuti tidak berbayar. Ada juga yang dirumahkan.

Ada pula yang nggak bekerja tapi dapat gaji mesti tidak sebesar saat kondisi normal. Lagi-lagi, kami semua berharap  ada intervensi dari pemerintah.

Apa yang akan dilakukan PHRI DIY?

Ini bukan hanya DIY, tapi nasional. PHRI tidak bisa berjalan sendiri. Kami  sudah cunthel. Kami butuh bantuan dari pemerintah.

Kami memohon pemerintah memberi stimulus. Ini sudah SOS.

Soal rapid test. Saya mendapat kabar ada wacana dihilangkan. Kami  menyambut baik.

Karena masyarakat enggan bepergian ke luar kota karena beban semakin tinggi. Sementara pendapatan terus merosot.

Termasuk harus melakukan rapid test. Ini ada dampaknya bagi masyarakat yang ingin berwisata. Jikapun rapid test tidak jadi dihapus, kami minta pemerintah subsidi biaya rapid test. Makin besar, makin baik.

Saya hanya ingin mengatakan, sektor pariwisata menjadi salah satu pendongkrak pendapatan asli daerah. Pariwisata juga menumbuhkan perekonomian masyarakat.

Karena itu bagaimana caranya agar pada masa pandemi virus corona ini, kegiatan pariwisata tetap berjalan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. ***

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA