oleh

Hati Hati Tatap Muka, Siswa SD Paling Susah Pakai Masker

BERITA649.COM –  Epidemiolog UGM, Bayu Satria Wiratama mengatakan keputusan memulai belajar tatap muka di sekolah perlu melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan  pakar epidemiologi.

Koordinasi antar lembaga untuk membantu merumuskan tindakan yang diambil daerah. Mulai  asesmen kesiapan hingga manipulasi infrastruktur.

Sebab pengambilan keputusan belajar tatap muka  tidak cukup didasarkan pada zonasi risiko COVID-19.

“Zonasi kurang bagus akurasinya. Perlu ditambah parameter lain, seperti positivity rate,” terang Bayu.

BACA JUGA: Target Vaksinasi 70 Persen dari Jumlah Populasi

Positivity rate diharapkan berada di bawah angka 5 persen. Namun, indikator ini perlu dilihat dari masing-masing daerah, bukan indikator secara nasional.

Antara lain jumlah yang di-tracing,  jumlah kasus aktif, jumlah kasus baru, dan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit.

“Menurut saya, keputusan pemerintah memperbolehkan pembelajaran tatap muka pada Januari mendatang belum tepat jika melihat perkembangan COVID-19 di Indonesia,” kata Bayu.

Indikator untuk menakar kesiapan perlu melihat kondisi setiap provinsi, kabupaten, atau kota.

Selain itu, protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mengenakan masker, dan mencuci tangan, harus menjadi perhatian khusus.

Protokol ini berupa pengawasan harian kondisi murid, guru dan orang tua murid, pengaturan jam kelas menjadi lebih pendek, pengaturan posisi duduk di kelas dan ruang guru, serta memastikan setiap kelas memiliki ventilasi yang baik.

“Perlu asesmen yang lebih detil untuk pembukaan sekolah pada jenjang SD dan jenjang pendidikan di bawahnya. Karena lebih sulit memastikan setiap siswa dapat tetap menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya.

Anak usia sekolah dasar ke bawah  paling susah menggunakan masker.  Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan siswa SMP dan SMA.

Sementara terkait penerapan perkuliahan di jenjang pendidikan tinggi, perguruan tinggi bersama pemerintah daerah perlu koordinasi melakukan pengawasan terhadap mahasiswa.

Semua mahasiswa yang datang wajib melakukan karantina mandiri selama 14 hari. (mkb/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA