oleh

Hasil Survei, 2/3 Responden Siap Terima Vaksin

BERITA649.COM – Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) melakukan survei nasional tentang penerimaan vaksin COVID-19.

Survei ini didukung UNICEF dan WHO. Survei berlangsung 19-30 September lalu.  Survei bertujuan memahami pandangan, persepsi, serta perhatian masyarakat tentang vaksinasi COVID-19.

Survei mengumpulkan tanggapan lebih dari 115.000 orang dari 34 provinsi. Meliputi 508 kabupaten dan kota se-Indonesia.

Apa hasilnya? Survei menunjukkan tiga perempat responden menyatakan telah mendengar vaksin COVID19. Dua pertiga responden bersedia menerima vaksin COVID-19.

BACA JUGA: Diproteksi dengan Prokes dan Asuransi, Wisata jadi Lega

Kelompok masyarakat yang mendapatkan informasi lebih banyak  cenderung menerima pemberian vaksin COVID-19.

Sebagian besar responden yang mempunyai asuransi kesehatan juga menerima vaksin COVID-19.

“Survei menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia telah mendengar tentang vaksin COVID-19 dan bersedia menerimanya,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi di Jakarta (17/11/2020).

Namun, hasil survei menunjukkan kelompok yang ragu dan sebagian kecil menolak vaksinasi COVID-19. Tujuh persen responden yang menolak mengatakan faktor keamanan, efektivitas, serta kehalalan vaksin sebagai faktor pertimbangan.

BACA JUGA: Belanja Cukup Pakai e-Wallet atau e-Woney

Dari segi geografis. Provinsi Papua melaporkan tingkat penerimaan vaksin paling tinggi dengan angka 75 persen. Diikuti Pulau Jawa dan Kalimantan.

Provinsi Aceh memiliki tingkat penerimaan vaksinasi terendah. Angkanya 46 persen. Disusul Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

Perwakilan UNICEF, Debora Comini mengatakan hasil survei akan digunakan untuk mengembangkan strategi vaksinasi COVID-19 yang efektif.

Termasuk pendekatan komunikasi khusus yang memastikan seluruh masyarakat memiliki akses informasi yang akurat tentang keamanan dan efektivitas vaksin.

“Namun vaksin saja tidak akan mengakhiri pandemi. Juga perlu terus memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik bila ingin keluar dari krisis dalam posisi yang lebih kuat dari sebelumnya,” kata Debora. (ad/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA