oleh

Digulung Ombak, Lalu Tabrak Batu

APA yang dialami ratusan siswa SMP 1 Turi, Kabupaten Sleman ketika terseret air di Sungai Sempor? Apa yang terjadi? Lantas, bagaimana cara menyelamatkan diri dari aliran sir sungai? Kerikut kesaksian sejumah siswa yang selamat dari tragedi “susur sungai” di Sempor, 21 Februari. Adalah Fadila, siswa kelas 8D yang ikut dalam kegiatan susur sungai. Ia datang di lokasi outbound sekitar pukul 14.00.

“Setelah pelajaran selesai, saya pulang ke rumah dulu. Lalu langsung ke sungai,” kata Fadila mengawali kisahnya.

FADILA: Selamat dari air bah. (asa)

Setiba di sungai sekitar pukul 14.00, Fadila bersama kawan-kawan langsung turun ke sungai. Lokasinya berada  sekitar 400 meter di bawah jembatan Sempor. Waktu turun ke sungai, tinggi permukaan air di bawah lutut. Namun, setelah habis adzan Ashar, ketinggian air mendadak naik dalam waktu singkat. “Datang banjir bersamaan kilat dan suara petir dari arah utara,” terang Fadila.

Saat itu, ratusan langsung kocar-kacir. Terhempas derasnya aliran sir sungai. Ada yang tengelam. Ada yang terseret. Bahkan, ada yang tergulung-gulung ombak. Fadila, misalnya. Ketika air bah datang, Fadila sempta terseret. Ia sempat menarik lengan Agus, pembina kegiatan. Namun, lepas. Lalu, terseret lagi ke selatan. Badannya sempat menabrak batu berukuran besar. Akibatnya,tangan kiri mengalami cidera.

Beruntung, Fadila bisa menarik bambu. Bambu ini yang menyelamatkan sebelum ia ditarik ke pinggir oleh warga setempat. Begitu pula penuturan Nabila, siswa kelas VIIA. Ia nyaris tenggelam di kedalaman sekitar satu meter. Sempat panik. Bahkan, menangis. Namun, ia tertolong dengan air yang menepikan dirinya ke pinggir. Setelah itu, Nabila langsung pulang rumah dengan beberapa sisa yang selamat.

Abel, siswa kelas VIIA juga peserta susur sungai yang selamat. Ia terseret jauh dari lokasi kegiatan. Namun, ia diselamatkan warga yang berada di lokasi. Seperti Nabila, Abel juga langsung pulang rumah. Fadila, Abel atau Nabila mengaku tidak mengetahui persis kawan-kawannya yang akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Karena saat air bah datang, siswa menyelamatkan diri. Beberapa guru pembimbing juga berusaha menyelamatkan siswa yang terseret air.

“Saya nggak setuju kalau guru pembimbing disalahkan. Ini kan bencana? Bukan salah guru,” kata Fadila menanggapi guru yang dibully di sosial media.

Abel, Fadila dan Nabel berharap para relawan segera menemukan teman-temannya hidup atau meninggal dunia. Mereka mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan tetap sabar dan tabah.

BENDUNGAN: Saksi bisu tragedi susur sungai.

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA