oleh

Dicurigai Tertular Covid-19, Pria Ini Ditakuti Warga

YOGYAKARTA – Aksi kemanusiaan ini tak akan bisa dilupakan Tri Bagus, 52 tahun, warga Purbayan, Kotagede. Bahkan, aksi Tri tergolong nekat dan bisa membahayakan diri sendiri. Kok bisa? Begini kisahnya.

Awal September lalu, tetangga ada yang sakit diare setelah melakukan touring di Pacitan, Jawa Timur. Sakit itu muncul sesampai di rumah. Lalu, tetangga yang hobinya naik sepeda motor ini periksa ke dokter.

Setelah diperiksa, ternyata tetangganya dinyatakan positif Covid-19. Selang beberapa hari kemudian meninggal dunia di rumah sakit. Tri Bagus yang akrab disapa Agus langsung bergerak. Ia bersama empat tetangga menyiapkan pemakaman.

BACA JUGA : Memiliki Banyak Sahabat, jadi Teman bagi Anak-anak

Maklumlah, Agus sehari-harinya bertugas menyiapkan pemakaman. Mulai menyiapkan lahan untuk jasad, mengubur sampai menutp liang lahat. Saat tetangga  meninggal dunia karena komplikasi penyakit bawaan dengan virus Corona, Agus juga turun tangan.

Ia hanya mengenakan alat pelindung diri seadanya. Badannya ditutup mantol hujan seharga Rp 5 ribu. Wajahnya diamankan pakai face shield. Mengenakan sarung tangan karet dan sepatu pelindung kaki.

Setelah jenazah tiba di pemakaman, Agus tanpa ragu-ragu mengambil peran ikut memakamkan tetangganya.  Penampilan Agus berbeda dengan tim pemakaman resmi yang mengenakan seragam khusus berupa hazmat.

BACA JUGA : Sultan Minta Penghuni dan Penduduk Saling Jaga Diri

“Bismillah. Saya sama sekali tidak ragu. Niat saya hanya semata-mata karena Allah SWT,” kata Agus mengenang.

Keberanian Agus memakamkan jasad yang meninggal karena terinfeksi Covid-19 sempat menjadi topik pembicaraan. Singkat cerita, Agus disarankan melakukan isolasi mandiri di rumah. Alasannya, Agus sempat kontak dengan jasad yang tertular virus Corona.

Permintaan agar Agus melakukan isolasi mandiri terus disuarakan. Bahkan, si anak juga memintanya melakukan isolasi selama 14 hari di rumah. Namun, apa yang terjadi?

Agus hanya melakukan isolasi mandiri di rumah selama dua hari.  Agus keluar rumah karena bosan berada di rumah. Tetangga sempat ketakutan melihat Agus berjalan di gang kampung.

Namun, Agus memilih cuek. Ia tetap melangkahkan kaki menuju Angkringan Bendut.

BACA JUGA : Pemkot Yogyakarta Buka Shelter bagi OTG, Kapasitas 84 Orang

Melihat Agus, orang-orang yang sedang ngobrol di angkringan kaget setengah mati. Termasuk Endradi “Bendut” yang mengaku kaget melijat Agus keluar dari rumah.

Bahkan, ada pengunjung angkringan yang hendak lari karena ketakutan tertular virus Corona. Agus sempat diminta pulang. Tapi, Agus menolak.

“Aku iki ora popo. Aku ora keno virus corona. Bismillah aku sehat,” kata Agus berusaha meyakinkan kepada Endradi dan pengunjung angkringan.

Mendengar kata-kata Agus, tidak semua langsung percaya. Termasuk Endradi dan isterinya. Endradi mengaku sempat resah setelah Agus meninggalkan angkringan. Kecemasan ini juga dialami orang-orang yang bertemu dengan Agus.

BACA JUGA : Uji Kalibrasi GeNose, UGM Tes 600 Pasien

Tetangga yang khawatir Agus membawa virus Corona itu  akhirnya terjawab. Tiga minggu sejak pemakaman, Agus tampak sehat. Kondisi badannya baik-baik saja. Ia juga melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa.

“Alhamdulillah. Sampai hari ini (25/9/2020), saya sehat-sehat saja,” katanya.

Sementara orang-orang yang ditemui juga dalam keadaan sehat. Tidak ada yang sakit. Apalagi tertular Covid-19.

Bila ada yang masih meragukan kesehatannya, Agus mengatakan tak masalah. Bahkan, ia mengaku siap di tes swab kapanpun. Dengan catatan, ia tak mau menanggung biaya tes swab. (aza/asa)

 

 

 

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA