oleh

Budaya Jujur Harus jadi Karakter Anak Muda

JAKARTA – Data indeks persepsi korupsi terhadap proses pemberantasan korupsi Indonesia kembali menurun.  Pada tahun 2019 dengan skor 40.

Lalu menurun dengan skor 37. Sehingga posisi Indonesia melorot pada rangking ke-102.  Sebelumnya Indonesia berada pada posisi 85 dari 180 negara.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dr Nurul Ghufron mengatakan, penyebab turunnya indeks persepsi korupsi karena masih marak perilaku korupsi di sektor dunia usaha dan politik.

“Kemudahan usaha di Indonesia masih membutuhkan suap,” kata Ghufron pada kuliah umum soal pendidikan anti korupsi dalam rangka kegiatan KPK Goes to Campus di UGM (4/5/2021).

BACA JUGA: Suasana Sepi, Buruh Gendong Saling Injak Punggung

Ghufron menyampaikan kuliah umum bertajuk “Antikorupsi? Bisa Dimulai dari Kamu Menjadi Profesional Berintegritas.”

Kata Ghufron, layanan satu pintu tidak cukup hanya berkas saja sebagai syarat. Lalu,  sektor politik mulai pileg, pilpres dan pilkada, publik menganggap politik uang masih masif terjadi.

“Di politik masih penuh dengan suap,” sambungnya seperti dilansir ugm.ac.id.

Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng mengungkapkan pendidikan budaya antikorupsi perlu ditanamkan di kalangan generasi muda.

BACA JUGA: Walikota Larang Kepala OPD Terbitkan Surat Perjalanan Dinas

Budaya jujur dan tidak mengambil yang bukan haknya perlu menjadi karakter anak muda sebagai penerus kepemimpinan bangsa.

Pelayanan publik dan masyarakat harus mengedepankan kejujuran, dan  menjaga integritas.

Ghufron mengatakan, integritas sangat langka saat ini. Banyak orientasi calon alumni dan profesional yang mengedepankan kesenangan. (aza/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA