oleh

Belajar Jarak Jauh Lebih Aman bagi Anak-Anak

BERITA649.COM – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan pembelajaran melalui sistem jarak jauh lebih aman bagi anak-anak.

Pendapat tersebut  menimbang  panduan dari World Health Organization (WHO), publikasi ilmiah, publikasi di media massa dan data penyebaran COVID-19 di Indonesia.

IDAI juga memandang kegiatan belajar-mengajar  tatap muka berisiko tinggi terjadinya lonjakan kasus COVID-19. Namun, bila sekolah ingin melakukan belajar di sekolah, harus memenuhi standar protokol kesehatan.

Memastikan dukungan fasilitas memadai sesuai petunjuk teknis. Juga diperlukan mekanisme pemantauan pemenuhan standar protokol kesehatan.

BACA JUGA: Target Vaksinasi 70 Persen dari Jumlah Populasi

“Yang lebih penting, sebelum membuka belajar tatap muka perlu memperhatikan apakah angka kejadian dan kematian COVID-19 di daerahnya meningkat  atau tidak,” kata Ketua Umum IDAI Dr Dr Aman B Pulungan dan Sekretaris Umum Dr Hikari Ambara Sjakti (1/12/2020).

Bagi orang tua yang mempertimbangkan persetujuan kegiatan belajar mengajar tatap muka, sebaiknya dipertimbangkan apakah partisipasi anak dalam kegiatan tatap muka lebih bermanfaat atau justru meningkatkan risiko penularan?

Aapakah anak sudah mampu melaksanakan cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak?  Apakah anak masih memerlukan pendampingan orang tua saat sekolah?

“Bila masih, sebaiknya anak belajar di rumah dulu saja,” kata Aman.

IDAI tidak memungkiri selama pandemi COVID-19 terjadi peningkatan stres pada anak dan keluarga. Lalu, perlakuan salah, pernikahan dini, ancama putus sekolah dan kondisi yang mengancam kesehatan dan kesejahteraan anak di negara berkembang.

Aman mengatakan, kegiatan belajar di rumah  sulit dilakukan. Namun perlu diterapkan. IDAI menyebutkan satu dari sembilan kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia adalah anak usia di bawah 18 tahun.

Data tanggal 29 November lalu menunjukkan proporsi kematian anak akibat COVID-19 dibanding seluruh kasus kematian di Indonesia sebesar 3,2 persen.

Angka tersebut merupakan tertinggi di Asia Pasifik saat ini. Anak yang tidak bergejala dapat menjadi sumber penularan orang di sekitarnya. (ad/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA