oleh

71 Persen Responden Meyakini Penularan Lewat Batuk dan Bersin

BERITA649.COM – Survei AC Nielsen bekerjasama dengan UNICEF melakukan survei di 6 kota besar di Indonesia. Jumlah responden sebanyak 2 ribu orang.

Survei menggali sikap masyarakat terkait praktik pencegahan COVID-19 pada kehidupan sehari-hari. Hasilnya?

Sebanyak 69,6 persen responden  mengkaitkan COVID-19 dengan aspek negatif.  Seperti berbahaya, menular, darurat, mematikan, menakutkan, khawatir, wabah, pandemi, dan penyakit.

Mayoritas responden menempatkan COVID-19 dengan aspek negatif. Namun, bisa mengarahkan perilaku seseorang bertindak positif dalam mencegah penularan virus corona.

BACA JUGA: Ini Strategi bila Terjadi Lonjakan Kasus Positif

UNICEF Communications Development Specialist, Rizky Ika Syafitri  menerangkan ketakutan bila dimanfaatkan dengan benar bisa mengarahkan ke arah perilaku yang lebih baik.

“Jika ketakutan tidak diolah dengan baik, hanya akan jadi ketakutan saja. Tidak menjadi aset untuk mengolah perubahan perilaku,” kata Ika dalam dialog bertema Keterlibatan Masyarakat dalam Respon Pandemi COVID-19 yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (4/11/2020).

Survei juga menyebutkan sebanyak 31,5 persen melakukan seluruh perilaku 3M secara disiplin. Sebanyak 36 persen dari total jumlah responden melakukan dua dari perilaku 3M.

BACA JUGA: Temukan “Clickjacking” dan “Bug”, Bocah Ini Terima 2 Penghargaan

Sementara 23,2 persen melakukan 1 dari perilaku 3M. Hanya 9,3 persen yang sama sekali tidak melakukan kepatuhan terhadap 3M.

Khusus untuk jaga jarak, ada aspek norma sosial yang berperan. Merasa tidak enak menjauh dari orang lain; orang lain yang mendekat; atau berpikir semua orang juga tidak menjaga jarak.

Sebanyak 71 persen responden berpikir penularan COVID-19 melalui orang yang batuk dan bersin. Hanya 23-25 persen responden yang menyebutkan penularan COVID-19 melalui bicara dan bernafas.

“Ini menjelaskan, mengapa jaga jarak dianggap tidak terlalu perlu saat berbicara dengan orang lain selama lawan bicara tidak batuk atau bersin,” terang Ika.

Ika mengatakan, edukasi berperan penting membantu membentuk kerangka pikir pada masyarakat, agar mengubah perilaku pencegahan COVID-19 lebih disiplin. (ad/asa)

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA