oleh

4 Tahun Memburu Orang dengan Gangguan Jiwa, Apa yang Dilakukan?

BOGOR – Jalan hidup wanita satu ini boleh dibilang  langka.  Seminggu sekali, ia menghabiskan waktu di jalan. Ia “berburu” orang-orang yang selama ini hidup telantar di jalan. Jauh dari atensi keluarga.

Danik Ahmad. Inilah nama perempuan yang mempunyai hobi langka.  Ia adalah warga Yogyakarta yang kini tinggal di Kota Bogor, Jawa Barat.

Seminggu sekali mencari orang-orang yang (maaf) mengalami gangguan jiwa.

Atau dikenal dengan istilah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Pekerjaan ini dilakukan setiap hari Jumat. Kadang sendiri. Atau sesekali mengajak anaknya.

Lokasi yang didatangi berpindah-pindah. Orang yang ditemui kadang sama, kadang belum pernah ditemui.

BACA JUGA: Proyek Jalan Tol Solo – YIA Siap Digarap

“Saya ingin berbagi dengan mereka,” kata Danik kepada BERITA649.com saat pulang ke rumahnya di Jalan Wonosari beberapa hari lalu.

Danik telah melakukan “pekerjaan” ini sejak empat tahun lalu. Setiap Jumat, ia menghabiskan waktu di jalan.

Danik membawa beberapa nasi bungkus. Juga pakaian bekas  layak pakai.

Ketika bertemu “sasaran” yang dicari, Danik langsung menghampiri. Ia menyerahkan nasi bungkus sembari mengajak komunikasi.

“Ada yang nyambung. Ada juga yang tidak. Kebanyakan tidak nyambung, tapi bisa berkomunikasi dengan gesture,” katanya.

Danik juga mendadak harus ke toko mencari sandal atau keperluan lain. Barang-barang itu kemudian diserahkan kepada orang yang ditemui di jalan.

Ia mengakui tidak mudah berkomunikasi dengan ODGJ. Saat didatangi, langsung lari. Ada pula yang merah-marah. Atau sama sekali cuek ketika diajak ngobrol.

BACA JUGA: Tamu dari Zona Merah Diminta Tunda ke Yogyakarta

JIWA SOSIAL: Danik Ahmad bersama ODGJ yang ditemui di jalan. (dok. pribadi)

“Hanya butuh kesabaran untuk membina mereka,” kata Danik.

Setiap Jumat, Danik menemukan minimal lima orang dengan gangguan jiwa. Lantas, berapa banyak ODGJ yang telah dibina selama empat tahun di jalan?

Danik menggelengkan kepala tidak tahu.

“Saya tidak ingat,” jawabnya.

Danik mengatakan sangat konsen memberi atensi kepada orang dengan gangguan jiwa. Alasannya, mereka luput dari perhatian.

Mereka sebenarnya masih memiliki keluarga. Tapi, entah kemana.

Hidupnya dibiarkan sendiri tanpa teman. Mencari makan dan minum sendiri. Memakan apa saja yang didapat. Termasuk makan apa saja yang diambil dari tempat sampah.

Danik mengaku tidak tega. Itulah sebabnya, setiap Jumat ia membagikan puluhan nasi bungkus kepada orang dalam gangguan jiwa.

“Alhamdulillah. Banyak teman yang terbuka hatinya, lalu memberi atensi kepada ODGJ,” katanya. (#)

penulis: asa | editor: sauki adham

 

 

 

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA