oleh

3M dan 3T Cara Ampuh Putus Penularan COVID-19

BERITA649.COM – Penerapan tracing, testing, dan treatment (3T) sama pentingnya dengan kebiasaan menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M).

Keduanya menjadi cara ampuh memutus mata rantai penularan COVID-19. Hanya, pemahaman  3T di masyarakat masih perlu ditingkatkan.

“Mengingat masyarakat lebih mengenal 3M yang kampanyenya dilakukan terlebih dahulu dan gencar,” kata Penasihat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menkomarinvest), Monica Nirmala pada Dialog Produktif bertema Optimisme Masyarakat terhadap 3T yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, hari ini (12/11/2020).

Kata Monica, 3M banyak membicarakan tentang peran  sebagai individu. Sementara 3T  memberi  pemberitahuan kepada orang sekitar  untuk waspada.

BACA JUGA: 6 Jam Hanya Terjadi 1 Kali Guguran

Monica mengungkapkan pemeriksaan dini menjadi penting agar bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Sekaligus bisa menghindari potensi penularan ke orang lain.

Pelacakan dilakukan pada kontak terdekat pasien positif COVID-19. Setelah diidentifikasi petugas kesehatan, kontak erat pasien harus melakukan isolasi.

“Seandainya ketika dilacak si kontak erat menunjukkan gejala, maka perlu dilakukan tes, kembali ke praktik pertama atau testing,” jelas Monica.

Perawatan akan dilakukan jika seseorang positif COVID-19. Jika ditemukan tidak ada gejala, harus melakukan isolasi mandiri di fasilitas yang sudah ditunjuk pemerintah.

BACA JUGA: Kisah Patriotik di RSDC Wisma Atlet

Sebaliknya, jika orang tersebut menunjukkan gejala, para petugas kesehatan akan memberi perawatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah.

Monica mencatat ada tiga indikator yang menjadi standarisasi pemeriksaan COVID-19. Yakni, jumlah spesimen, kecepatan hasil pemeriksaan, dan rasio positif.

“Di Indonesia, angka testing rata-rata mencapai 24.000-34.000 orang per hari,” katanya.

Kapasitas laboratorium yang dimiliki Indonesia sangat memadai melakukan pemeriksaan sesuai standar WHO. Kapasitas laboratorium hampir 80.000.

BACA JUGA: Mahfud Minta Pilkada Patuhi Protokol Kesehatan

Kendalanya justru pada individu. Ketika seseorang menunjukkan gejala COVID-19, kontak eratnya takut memeriksakan diri.

Managing Director IPSOS Indonesia, Soeprapto Tan mengatakan sebanyak 29 persen masyarakat  tidak memahami 3T

“Jika 3M tidak berjalan, maka 3T pasti akan lebih parah. Sekarang 3M sudah berjalan, saatnya kita mulai membicarakan 3T,” ujar Soeprapto.

Kata Soeprapto, faktor yang menghambat kampanye 3T adalah ketakutan atas stigma masyarakat. Pemerintah perlu menghimbau masyarakat tidak mengucilkan pasien positif COVID-19.

Namun memberi dukungan dan keprihatinan agar stigma negatif di mata publik bisa menghilang. (ad/asa)

Komentar

REKOMENDASI UNTUK ANDA