Warga Ingin Proyek Babaran Dirampungkan

Macetnya proyek saluran air hujan (SAH) di Jalan Babaran, Umbulharjo,  menyisakan persoalan bagi penduduk setempat. Warga berharap proyek tersebut secepatnya dapat  kembali dilanjutkan. Mengapa?

——————-

PASCA terjadinya operasi tangkap tangan (OTT) 19 Agustus 2019, otomatis proyek rehabilisasi saluran air hujan di Jalan Babaran berhenti. Macet. Tidak ada kegiatan pengerjaan sampai berita ini diturunkan.

Saat bersamaan pengerjaan serupa di kampong Celeban dan Jalan Prof Dr Soepomo juga berhenti. Padahal, warga yang tinggal  di sekitar lokasi proyek berharap  Pemerintah Kota Yogyakarta segera merampungkan garapan proyek yang dimulai awal Agustus 2019.

“Lebih cepat lebih baik. Jangan ditunda-tunda lagi. Karena  mangkraknya  proyek  sangat mengganggu kami,” kata Runi, warga RT 37 RW 12 Batikan, Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo.

Bila dihitung sejak terjadinya OTT 19 Agustus lalu, berarti  satu setengah bulan lebih proyek itu macet. Ditinggalkan begitu saja dengan kondisi yang tidak enak dipandang mata.

Jalan sepanjang kurang lebih 300 meter dalam kondisi rusak parah.  Sebagian menggangga. Sebagian lagi berlubang. Jalan juga menjadi sempit. Pengendara harus bergantian ketika bergerak dari arah berlawanan.

“Lewat jalan ini harus ekstra hati-hati bila tidak ingin kepleset,” imbuh seorang warga.

JALAN BABARAN: Sempit dan membahayakan. (saukiadham/berita649.com)

Proyek yang mangkrak juga mengakibatkan gangguan kesehatan, terutama  pengaruh debu yang beterbangan saat dilewati kendaraan atau tersapu angin. Warga juga harus rajin menyiram halaman. Juga membersihkan rumah akibat terkena debu.

Runi membenarkan, petugas menyemprot lokasi proyek sehari sekali. Tapi, tidak membantu. Karena tidak sampai satu jam, pemandangannya kembali panas. Debu beterbangan lagi.

Sementara warga yang hidupnya bergantung dari berjualan  di  Jalan Babaran juga terkena imbasnya. Banyak yang memilih tutup daripada membuka usaha tapi tidak laku.

“Ini jelas merugikan penduduk. Saya sendiri kehilangan tambahan pendapatan setelah warung kelontong saya tutup,” kata Runi.

Warga sedikit lega. Pasalnya, tanggal 1 Oktober mendatang akan dilaksanakan pertemuan warga dengan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan  dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta. Pertemuan tersebut terkait rencana dilanjutkannya proyek rehabilitasi saluran air hujan.

Penduduk menyambut baik rencana tersebut. Karena bila tidak segera digarap, proyek yang tidak rampung akan membahayakan penduduk saat musim penghujan.***