Tunggu 30 Tahun, Litbangyasa Temukan Teknologi Radiografi Sinar-X

KARYA ANAK BANGSA: Gede Bayu Suparta , Afnan Hadikusumo dan Hans Purwanto. (istimewa)

YOGYAKARTA – Setelah menunggu selama 30 tahun, Tim Penelitian Pengembangan dan Rekayasa (Litbangyasa) UGM mengembangkan teknologi radiografi sinar-x digital untuk diagnose medis. Pengembangan teknologi ini diawali dengan riset radiografi digital sejak 1989.

Teknologi radiografi sinar-x menggunakan layar fluoresens dan kamera digital atau disebut teknologi radiografi sinar-x fluoresens digital (RSFD).  Kinerja teknologi RSFD setara kinerja teknologi direct digital radiography (DDR) yang menggunakan flat detektor atau disebut juga radiografi flat detektor (RFD).

“Fasilitas DDR atau FDR sangat dibutuhkan rumah sakit di Indonesia. Namun, karena harganya sangat mahal, tidak semua rumah sakit dapat memiliki. Implikasi lainnya adalah biaya yang harus dibayar pasien menjadi tinggi,” terang  Dr  Gede Bayu Suparta dari Departemen Fisika FMIPA UGM.

Kegiatan Litbangyasa di bidang radiografi digital secara serius dilakukan sejak tahun 2003 karena teknologi komputer, teknologi kamera dan teknik coding semakin maju. Hasilnya berupa aplikasi paten terkait perangkat untuk sinkronisasi digitisasi citra radiografi dengan pancaran sinar-x, yang diajukan pada tahun 2005.

Aplikasi paten digranted 19 Oktober 2009 dengan nomor ID P 0024437. Kepemilikan ini telah diserahkan kepada Universitas Gadjah Mada sebagai aset intelektual bangsa Indonesia.

Gede Bayu Suparta memimpikan RSFD dapat digunakan  3 ribu rumah sakit dan klinik, serta 9 ribu puskesmas yang tersebar di 34 provinsi se Indonesia. Karena itu, tim peneliti bekerjasama dengan PT Madeena berupaya mencari mitra untuk memproduksi alat RSFD secara besar-besaran.  Salah satu mitra yang digandeng adalah CV Prestige Furniture yang dikelola Hans Purwanto.

Anggota DPD RI H Afnan Hadikusumo mengaku bangga dengan penemuan Litbangyasa UGM. “Ini merupakan karya anak banga yang luar biasa,” kata Afnan.

Afnan berharap Kota Yogyakarta bisa menjadi kota yang memproduksi alat radiografi sinar-x digital terbesar di  Indonesia. Bahkan kelas dunia. Itulah sebabnya, Afnan mendorong pemerintah dapat memfasilitasi penemuan Litbangyasa. Afnan juga mengajak pihak swasta bisa mengambil peran dalam pengembangan tekonologi radiografi sinar-x digital untuk diagnose medis.