Terlatih Hidup Mandiri, Belajar Bisnis dari Ibu Mertua

DEWATA EKA PUTERA. Sosok ini belakangan menjadi pembicaraan masyarakat dalam tiga bulan terakhir. Namanya melambung setelah disebut-sebut bakal meramaikan bursa pemilihan Bupati Bantul 2020. Siapa sebenarnya Dewa? Berikut laporan Jurnalis berita649.com, Azam Sauki Adham mengisahkan tentang perjalanan hidup Dewata Eka Putera.

———————————

BANYAK DIAM. Tidak banyak bicara. Itulah yang diperlihatkan Dewa sehari-hari. Namun, pria berkumis ini dikenal sebagai sosok ramah. Mudah bergaul. Bahkan, mudah bersahabat dengan orang-orang yang baru saja dikenal.

Dewa lahir di Jakarta, 22 Juni 1972 dari pasangan Sutari Mulyodiatmojo dan  Raden Ayu Siti Islamiyah. Ayahnya bekerja di perusahaan Pertamina. Sedangkan ibunya hanya di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Nama Dewata Eka Putera menyimpan sejarah. Tatkala lahir, ayahnya sedang berada di Bali. Ayahnya langsung memberi nama anaknya Dewata Eka Putera. Dewa dan ayahnya jarang bertemu. Dipastikan hanya bertemu setahun sekali.

Begitu pula ketika Dewa menjalani masa kanak-kanak di  Jakarta. Dewa lebih banyak ditemani ibunya. Setelah berusia empat tahun, Dewa pulang ke Yogyakarta. Kota Yogyakarta adalah tempat tinggal dan kelahiran ayah dan ibunya.

MAKIN DIKENAL: Baliho bergambar Dewata Eka Putera. (istimewa)

Dewa sehari-harinya menetap di kampung Ngadisuryan. Sementara neneknya tinggal di Tamansari Kecamatan Kraton. Ia seorang pedagang di Pasar Kranggan. Masa kecil Dewa hingga dewasa berada di Yogyakarta. Di kota ini, Dewa menggantikan peran ayahnya untuk menjaga ibu dan adik kandungnya.

Dewa mengawali pendidikan di sekolah Taman Kanak-Kanak Ngadisuryan.

Lalu melanjutkan pendidikan di SD Keputran Yogyakarta. Saat bersamaan, Dewan pindah rumah, tinggal di kampung Gemblakan. Usai lulus sekolah dasar, Dewa melanjutkan sekolah di SMP 3 Negeri Yogyakarta. Terus memilih SMA Tirtonirmolo sebagai  tempat sekolah menengah.

“Waktu itu, bapak membangun rumah di Bangunrejo, Pingit. Saya pindah lagi di rumah ini,” kenangnya.

Setelah lulus dari SMA Tirtonirmolo, Dewa melanjutkan kuliah di Jurusan Ekonomi Manajemen Akademi Manajemen Perusahaan YKPN. Disinilah naluri bisnis Dewa semakin tumbuh dan terasah.

Adalah Iba Tubilah, seorang perempuan yang menjadi guru bisnisnya. Iba Tubilah adalah ibu kandung Esti Mulyani. Esti yang akrab disapa Yani ini adalah isteri Dewa.

“Mentor bisnis saya adalah ibu mertua saya sendiri,” katanya apa adanya.

Padahal, Dewa waktu itu baru pacaran dengan Yani. Namun, Iba Tubilah memberi kepercayaan penuh kepada Dewa menjalankan roda bisnis. Waktu itu, Iba Tubilah dikenal sebagai juragan. Ia juga seorang petani, sekaligus menggarap bisnis tebu menjadi gula pasir.

Berbekal ilmu bisnis yang diajarkan ibu mertuanya, Dewa yang masih kuliah di semester satu itu piawai menjalankan usaha. (bersambung)