Pengunjung Dipersilakan Cat Kepala Wayang

RUMAH POTEHI: Daya tarik PBTY. (ninik/berita649.com)

YOGYAKARTA – Salah satu pertunjukan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2019 yang mencuri perhatian para pengunjung adalah Wayang Potehi. Wayang Potehi merupakan boneka yang disarungkan di tangan.

Dimainkan seorang dalang yang berada di balik layar. Dalang ini menghadap para penonton. Wajahnya tidak terlihat. Hanya tangan bersarung boneka yang disaksikan  penonton.

Sejarah mengisahkan Wayang Potehi telah berumur 3.000 tahun lebih. Kali pertama dikenalkan, wayang ini menggunakan boneka. Badan dibungkus dengan kain. Sedangkan kepala boneka dibuat dari kayu.

Asal muasal  berawal dari lima orang terpidana mati yang menunggu dieksekusi. Salah satu narapidana memanfaatkan selembar kain yang diikat ke telunjuk jari. Sementara empat narapidana dalam sel yang sama memainkan peralatan makan untuk suara.

Akhirnya pertunjukan kelima narapidana ini sampai ke telinga raja. Mereka  justru  dibebaskan dari hukuman mati. Kemudian diperintahkan mengembangkan wayang Potehi.

Kesenian yang kini dapat disaksikan di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ini berasal dari provinsi Hokkian di Tiongkok Selatan. Lokasinya di Kabupaten Quanzhou. Kesenian ini sudah eksis sejak masa Dinasti Tang  yang berkuasa  dari tahun 617  hingga 918 masehi.

Terus berkembang pada pemerintahan Dinasti Song (960 – 1279 M). Bagaimana bisa dikenal di Indonesia? Wayang Potehi masuk Indonesia melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Indonesia sekitar abad 16.

CINTA BUDAYA: Seorang bocah sedang cat wayang Potehi. (nini/berita649.com)

Tapi di Indonesia, penutur bahasa Hokkian berkurang drastis setelah orde baru. Wayang Potehi kemudian menggunakan bahasa Indonesia. Di Yogyakarta, dalang Potehi  yang namanya sudah dikenal adalah Purwanto.

Pria yang menyukai wayang jaman dulu ini asli Jombang, Jawa Timur. Ia mahir memainkan wayang Potehi setelah dibimbing Toni Harsono dari Paguyuan Fu He An/Hok Ho An dari Gudo, Jombang, Jawa Timur.

Saat ini, wayang Potehi mengambil cerita klasik Tiongkok. Paling sering dimainkan dalam pertunjukan adalah Sie Djin Koci (Ceng Tang dan Ceng See). Cerita lain yang juga populer adalah Sam Kok, See You Sun Go Kong dan Sam Pek Eng Tay.

Wayang Potehi ini dimainkan di salah satu rumah di kampung Ketandan. Rumah budaya ini tidak hanya dikunjungi warga Tionghoa. Warga Yogyakarta dan sekitarnya pun tertarik.

Pengunjung tak hanya bisa menyaksikan wayang Potehi. Tapi, juga bisa melihat lebih dekat pembuatan wayang. Bahkan, pengunjung dipersilakan melukis kepala wayang dengan cat warna-warni.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.