Mungkinkah Si Thole Buka Trayek Baru? | oleh: Azam Sauki Adham

HARI ini, tanggal 28 November 2017, angkutan shuttle Si Thole genap berusia tiga tahun. Sederet cerita suka dan duka mewarnai perjalanan Si Thole sebagai armada wisata “nJeron Beteng” di Yogyakarta.  Boleh dibilang, selama tiga tahu terakhir  pengelola sukses membangun branding Si Thole sebagai angkutan wisata melalui badan usaha koperasi bernama Forum Komunikasi Alun Alun Utara (FKAAU) Yogyakarta.  Indikatornya dapat dilihat semakin membaiknya animo para wisatawan domestik maupun mencanegara yang memanfaatkan angkutan yang memiliki warna khas perpaduan hijau dan kuning.  Armada Si Thole  menjadi sarana transportasi para wisatawan yang berkunjung ke Kraton, Taman Pintar, atau Tamansari.

Cerita kelahiran Si Thole sebenarnya sudah ditulis sejak tahun 2013. Namun, Si Thole resmi diwujudkan tiga tahun lalu. Waktu itu, armada yang dioperasikan baru lima kendaraan. Kini, Si Thole memiliki sepuluh armada.  Melayani wisatawan pukul 08.00 hingga 22.00. Tarifnya terhitung murah dan bersahabat di dompet. Hanya Rp 5 ribu sekali jalan. Kesuksesan Si Thole tidak terlepas dari peran Hamam Romas dan Arief Nurrohman. Perpaduan keduanya memberi efek positif bagi perjalanan Si Thole. Kini, sebanyak 20 karyawan yang ikut membesarkan Si Thole mulai “kecipratan” kesejahteraan, meski sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

DUET MAUT: Hamam Romas dan Arif Nurrohman
Inilah profil koperasi yang menjalani kehidupan secara mandiri. Modalnya patungan tanpa secuilpun menerima atau diberi dana APBD dari pemerintah daerah. 

Lantas, apa saja yang menarik dicermati tiga tahun perjalanan Si Thole? Armada Si Thole memang harus peka terhadap potensi perubahan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah.  Jangan lupa, Yogyakarta menjadi tujuan wisata. Dari tahun ke tahun, volume pengunjung semakin menggembirakan. Kemacetan lalu-lintas mulai terjadi di jalan-jalan Yogyakarta pada hari-hari biasa. Musim liburan, Yogyakarta menjadi “sarang” kemacetan.  Kondisi ini yang bisa berimplikasi terhadap perubahan pemanfaatan lahan. Artinya, perlu antisipasi bila (misalnya) bus wisata pada saatnya nanti tidak diperbolehkan lagi parkir di Ngabean. Ini akan menjadi dampak yang menyakitkan bagi pengelola Si Thole.

Selain itu, pengelola juga perlu mencari terobosan agar Si Thole bisa melaju dengan nyaman saat Yogyakarta dilanda kemacetan. Kondisi ini sangat tidak mengenakkan bagi wisatawan. Waktu adalah komponen penting yang diperhitungkan wisatawan.

Si Thole sepertinya hanya ketiban rejeki saat musim liburan. Saking banyaknya wisatawan yang ingin memanfaatkan jasa angkutan Si Thole, pengelola sampai kebingungan. Terjadi antrian penumpang. Sepuluh armada yang disediakan tak sanggup melayani ledakan penumpang. Namun, bila musim liburan telah lewat, atau tidak ada bus pariwisata masuk ke Ngabean,  hanya beberapa armada yang beroperasi. Jika pun ada, Si Thole biasanya ngetem memburu penumpang di Tamansari atau Kraton. Inilah yang sebenarnya perlu segera dicarikan solusi agar sepuluh armada Si Thole bisa dioptimalkan pada hari-hari biasa. Pemerintah DIY dan Pemkot Yogyakarta bersama Koperasi FKKAU perlu duduk satu meja, memikirkan Si Thole tetap bisa “hidup” meski bukan musim liburan.

Misalnya, apakah perlu ditambah jangkauan rute trayek Si Thole? Artinya, armada tidak hanya melayani penumpang  dari Parkir Ngabean, Kraton, Taman Pintar dan Tamansari dan sebaliknya. Bisa tidak membuka peluang armada bisa beroperasi di luar Yogyakarta? Apakah mungkin, Si Thole bisa menjadi sarana transportasi bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat lain di Yogyakarta? Katakanlah peninggalan Kerajaan Mataram Kotagede, Bantul; dan Ambarbinangun, Sleman.  Sampai hari ini, tempat ini belum “tersentuh” angkutan umum.

Jikapun wisatawan ingin menumpang Bus Trans Jogja, aksesnya terlalu jauh. Pengunjung harus jalan kaki dari shelter terdekat. Kebanyakan, wisatawan yang berkunjung k tempat ini menggunakan sepeda motor atau mobil pribadi.  Menjadi diskusi menarik bila wisatawan yang turun di Ngabean bisa dibawa ke Kotagede dengan menggunakan armada Si Thole. Tentu, wacana ini perlu dikaji secara mendalam. Tidak emosioal. Mempertimbangkan banyak aspek, terutama menyangkut dampak sosial dan pemerataan trayek angkutan.***

 

  • Penulis adalah Pemimpin Redaksi berita649.com

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.