Sel. Agu 20th, 2019

berita649.com

Kritis | Mengabarkan Berita Baik

Gotong Royong Bangun Rumah untuk Tempat Tinggal Residivis

KEPEDULIAN WARGA: Rumah bagi dhuafa. (sauki adham/berita649.com)

Bulan Ramadhan bulan penuh kebaikan. Jauh sebelum ramadhan tiba, kampung RW 06 Notoprajan telah memberi teladan bagi keharmonisan bermasyarakat. Berbekal dana terbatas dan kekompakan warga, pengurus kampung membangun rumah sederhana untuk penduduk yang tidak mampu. Hebatnya lagi, penduduk satu ini pernah menjadi residivis. Bahkan, juga pernah menjadi pasien Rumah Sakit Ghrasia, Pakem, Sleman. Bagaimana kisahnya?

—————-

RUMAH SEDERHANA: Buah gotong royong warga. (sauki adham/berita649.com)

WARGA yang beruntung itu menetap di RT 35. Usianya sudah kepala empat. Namun, hidupnya menyendiri di rumah yang dibangun oleh warga RW 06 Notoprajan. Rumah itu dibangun di atas lahan milik penduduk setempat. Lokasinya di barat Masjid Poesaka. Rumah sederhana  berukuran 3 x 4 meter per segi itu berada di wilayah RT 35 RW 06 Notoprajan, Kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan.

Halaman depan rumah  menghadap timur, persis berhadapan dengan gang kampung menuju Ruang Terbuka Hijau (TRH) Kelurahan Notoprajan. Pembangunan rumah sederhana bagi Agung bukan tanpa alasan. Ada faktor kemanusiaan.

“Ini sebagai bentuk perhatian dan kepedulian pengurus kampung dan warga terhadap warga yang harus ditolong,” kata Ketua RW 06 Moelyono.

Moelyono mengatakan, tempat tinggal dibangun sekitar sepuluh bulan lalu. Tepatnya setelah lebaran tahun 2018. Rumah didirikan secara gotong royong selama dua hari.  Sebagian biaya diambilkan dari kas kampung. Sementara bahan baku rumah adalah sisa kayu yang masih bisa dimanfaatkan. Sedangkan dinding dibuat dari bambu berkualitas. Atap ditutup dengan genteng.

Kebersamaan warga yang akhirnya menuntaskan program pembuatan tempat tinggal sederhana bagi warga yang tergolong sangat miskin. Sekadar diketahui, penghuni rumah semasa mudanya lahir dan menetap di kampung Kauman. Namun, masa muda yang dijalani penuh dinamika.  Ketua RT 36 Intinanul Ichwan mengatakan, yang bersangkutan berkali-kali berurusan dengan kepolisian karena perbuatan kriminal.

Akibatnya, tak terhitung berapa kali menginap di ruang tahanan polisi. Bahkan, juga menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan. Himpitan hidup juga memaksa pria bertubuh kekar itu pernah dirawat di Rumah Sakit Ghrasia Pakem, Sleman. Namun, kembali ke kampung karea tak betah. Juga pernah menjadi binaan Dinas Sosial. Pernah tinggal di rumah sosial di Karanganyar, Mantrijeron.

Tapi, kemudian memilih tinggal di Notoprajan. Sebelum menetap di rumah yang dibangun kampung, tinggal di tempat seadanya. Tempat tidur dari tumpukan kayu. Sedangkan dinding dan atap dari seng. Tinggal dalam kondisi seperti ini sudah bertahun-tahun. Hingga akhirnya, pengurus kampung membuatkan rumah untuk tempat tinggal.

Sudah hampir setahun usia  rumah buatan warga. Tapi, sayang. Rumah terkesan tidak terawat. Dikelilingi sampah. Bahkan, warga merasa tidak nyaman karena bau pesing di sekitar rumah. Penghuni tidak mempunyai pekerjaan. Ia hanya menghabiskan waktu berjalan-jalan tanpa tujuan.

“Harapannya, yang menempati bisa merawat. Syukur bisa membuat sekitar rumah selalu tampak bersih,” kata Ichwan.

%d blogger menyukai ini: