BPPTKG Minta Siapkan Prosedur Penanganan Kondisi Darurat

YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta meminta pemerintah daerah dan masyarakat di lereng Gunung Merapi  menyiapkan prosedur penanganan kondisi darurat.  BPPTKG juga meminta radius tiga kilometer dari puncak Merapi harus dikosongkan.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di kawasan Merapi juga harus waspada ketika turun hujan deras di puncak Merapi. Karena hujan bisa berpotensi memunculkan banjir lahar dingin.

“Silakan masyarakat menjalankan aktivitas seperti biasa. Tapi, tetap harus waspada,” pinta Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida kepada wartawan, hari ini (22/2/2019).

Belakangan Gunung Merapi mulai rajin menyemburkan awan panas sejak 29 Januari lalu hingga sekarang. Berdasarkan pandangan visual, awan panas meluncur ke Kali Gendol rata-rata sejauh dua kilometer. Namun, BPPTK memperkirakan ada potensi meluncur hingga tiga kilometer.

Itulah sebabnya, radius tiga kilometer dari puncak Merapi harus dikosongkan. Tidak boleh ada aktivitas apapun. Nah, jika nantinya ada potensi awan panas meluncur melebihi tiga kilometer, BPPTKG akan mengevaluasi status aktivitas Gunung Merapi.

“Sampai hari ini status masih “waspada”,” terang Hanik.

Data sesimik menyebutkan, volume kubah lava Merapi terhitung 22 Januari 2019 sampai sekarang berkisar 461 ribu m3. Pasalnya, material ekstrusi lava sebagian besar keluar berupa guguran lava atau guguran awan panas.

Apa komentar Anda terhadap berita ini?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.