Belum Semua Warga Mengetahui Panca Tertib

Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta pada tahun 2015 menggagas Gerakan Kampung Panca Tertib. Ada lima prioritas yang menjadi atensi. Yakni, ketertiban daerah milik jalan, ketertiban bangunan, ketertiban usaha, ketertiban lingkungan dan ketertiban sosial.   Gerakan ini telah berjalan selama hampir lima tahun. Bagaimana progresnya?

—————-

SOSIALISASI: Membentuk ketertiban di masyarakat.

GERAKAN Kampung Panca Tertib merupakan implementasi penyelenggaraan ketertiban umum, ketentraman masyarakat  dan melindungi masyarakat. Lahirnya gerakan ini digodok Dinas Ketertiban bersama tokoh masyarakat, LSM dan jurnalis.

Alhasil, gerakan ini membawa angin segar menciptakan ketertiban dan ketentraman di masyarakat.  “Penyadaran masyarakat menjadi kurang efektif jika tidak diimbangi pembinaan ketertiban  di tempat umum,” kata Nurwidi, kepala Dinas Ketertiban waktu itu.

Kini, Dinas Ketertiban yang berganti nama menjadi Satuan Polisi Pamong Praja ini semakin bersemangat menciptakan ketertiban di wilayah. Peran  Pelopor Ketertiban (Pekerti) dan Duta Ketertiban yang menjadi instrumen gerakan ini terus  dioptimalkan.

Bahkan, Dinas Ketertiban menambah jumlah personil Pekerti dari tahun ke tahun.  Tahun ini, sebanyak 70 Pekerti siap diterjunkan di masyarakat. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Yogyakarta Agus Winarto mengatakan, sebanyak 70 Pekerti berasal dari tujuh wilayah yang mendeklarasikan sebagai  kampung Panca Tertib. Yakni,  Gedongkuning, Celeban, Kadipaten Kidul,  Jatimulyo, Cokrodiningratan, Demangan,  dan Tempel.

“Setiap kampung mengirim sepuluh orang menjadi personil Pekerti.  Para Pekerti telah kami bekali dengan pengetahuan dan strategi. Siap beraksi menyukseskan Gerakan Kampung Panca Tertib,” kata Agus.

Lantas, bagaimana tanggapan masyarakat terhadap gerakan ini? Warga Kraton, Meisaroh, mengatakan sangat mendukung Kampung Panca Tertib. Ia ingin gerakan ini mendorong warga semakin tertib.

“Karena ketertiban ini yang akan membantu mewujudkan ketentraman di masyarakat,” katanya.

Hanya, Meisaroh berharap  gerakan ini digarap secara serius. Artinya, ada instrumen yang jelas untuk mengukur berhasil dan tidaknya Gerakan Kampung Panca Tertib.

Selain itu, komunikasi Duta Masyarakat, Pekerti dan masyarakat  harus diintensifkan.  Pasalnya, tidak semua masyarakat belum mengetahui arah tujuan gerakan Kampung  Panca Tertib.

“Apa indikatornya Kampung Panca Tertib dinilai berhasil atau tidak? Ini yang perlu disosialisasikan di masyarakat,” sarannya.

Agus Winarto meminta Pekerti menyusun program. Programnya realistis menyesuaikan kondisi.  Lalu mengawal hingga sasaran program tercapai secara bertahap. ***